Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Pertunjukan Terakhir: Kisah para Bissu dalam Impitan Kapitalisme dari Atas dan Bawah
Sumber foto: etnis.id

Pertunjukan Terakhir: Kisah para Bissu dalam Impitan Kapitalisme dari Atas dan Bawah

Rabu, 21 Oktober 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
21 kali dibaca

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Seniman tradisi adalah primadona  yang sesungguhnya terpuruk.”

Kalimat itu diucapkan Pajja, salah seorang Bissu di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, yang selama ini sering tampil dengan tari Sere Bissu dan tari maggirik (tarian sambil menusuk tubuh dengan keris) di panggung pertunjukan.

Saya sungguh terkesan, sekaligus miris mendengar ungkapan itu. Ternyata, ada kesenjangan yang menganga antara dunia yang mempertunjukkan mereka di atas panggung yang wah, pencahayaan canggih, dan kostum mahal, dengan realitas kehidupan mereka sehari-hari.

Sebagai catatan, Bissu ini adalah salah satu ahli spritual Bugis yang dianggap mewarisi kepercayaan dan tradisi Bugis Kuno (tradisi La Galigo).

Dalam lima gender yang dikenal di Bugis, Bissu adalah gender kelima, selain uruwane (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (waria), dan calalai (laki-laki perempuan).

Bissu, seperti yang juga disebut Sharyn Graham, merupakan meta-gender. Ia menghimpun keempat gender sebelumnya. Dalam kenyataannya, yang menjadi Bissu memang ada perempuan dan pernah ada laki-laki. Kendati demikian, yang dominan, adalah para calabai.

Puang Matoa Saidi (almarhum) menegaskan identitas Bissu ini dengan mengatakan: Urane majjiwa makkunrai, tengurane toi temmakunrai toi” (laki-laki yang berjiwa perempuan, tapi bukan laki-laki, juga bukan perempuan).

Matthes menganggap Bissu sebagai orang suci, yang akar katanya dari ‘bessi’ (suci). Kalis, bersih atau suci, demikian Bissu disebut, karena mereka tidak haid dan tidak pula mengeluarkan darah kotor, meski jiwa dan tampilannya perempuan.

Kita kembali pada cerita di awal. Ketika ungkapan Pajja itu terlontar, beberapa Bissu sedang pentas La Galigo keliling dunia pada 2003.

Di titimangsa yang sama, Pajja bersama seorang teman laki-lakinya, sedang bermandi keringat, terbungkuk-bungkuk memanggul karung-karung yang berisi padi, yang baru saja di panen.

Pajja saat itu menjadi buruh angkut padi. Menjelang sore, di rumah kecilnya yang beratap rumbia di pinggiran hutan, tampak seikat padi, yang ternyata adalah upahnya mengangkut padi, dari pagi hingga sore.

Apakah ‘kita’ (Anda) tidak ikut pertunjukan keliling dunia juga, dari sana kan bisa mendapatkan sumber pendapatan,” tanya saya, ketika itu.

“Beberapa waktu lalu, saya sempat tampil maggirik di panggung untuk sebuah pertunjukan. Itulah pertunjukan saya yang terakhir di panggung. Saya tidak mau lagi tampil menari di panggung pertunjukan. Kalau di acara ritual, mungkin masih mau,” jawabnya, kala itu.

Komodifikasi Budaya

Alasan Pajja meninggalkan panggung pertunjukan, karena ternyata di tempat itu, tidak hanya tarian, Bissu pun sejatinya telah dikomodifikasi.

Tarian ritual dan tubuh para Bissu telah menjadi komoditas. Dalam proses komodifikasi itu, Pajja merasa lebih banyak dirugikan. Yang untung justru orang-orang luar.

Dalam proses selanjutnya, dunia pertunjukan itu akhirnya menciptakan persaingan di internal para Bissu sendiri. Mereka bersaing agar memiliki otoritas tampil di panggung pertunjukkan. Budaya hidup bersama sebagai satu komunitas, tanpa disadari runtuh sedikit demi sedikit.

Panggung pertunjukan itu mungkin melahirkan decak kagum di seantero jagat. Mungkin juga membuat pundi-pundi uang kalangan tertentu makin membengkak. Tetapi, di komunitas seniman (komunitas lokal), ia hanya melahirkan nestapa akibat konflik di internal mereka.

Tekanan ekonomi tersebut, ternyata mendera komunitas Bissu, hingga hari ini. Panggung pertunjukan yang telah memecah-mecah komunitas ini menjadi kelompok, bahkan menjadikannya persaingan individu, akhirnya membuat beberapa sosok Bissu terlempar dari persaingan.

Yang bisa bertahan, mungkin, adalah mereka yang bisa memanfaatkan proses komodifikasi tersebut. Mereka ini akhirnya mengembangkan berbagai usaha atas nama kebissuannya; bikin sanggar tari, punya salon, jadi even organizer, atau setidaknya, mengembangkan usaha indo botting (perias pengantin).

Akan tetapi, berbagai usaha tersebut tidak lagi atas nama komunitas, melainkan individu. Atau, paling banter, genk calabai (waria) atau Bissu tertentu.

Bagaimana dengan para Bissu semacam Pajja, Uwa Matang, dan lainnya, yang tidak bisa masuk dalam persaingan ekonomi semacam itu? Mereka inilah yang dihantui kemiskinan,  hingga hari ini.

Para Bissu yang tidak masuk dalam jajaran elite dan justru adalah kelompok mayoritas, tergolong mereka-merekalah yang dihantui kemiskinan.

Para Bissu yang terakhir ini, akhirnya banyak bergantung pada kerja upahan, seperti yang dilakukan Pajja. Ia menjadi semacam tenaga kerja upahan (wage labor) di sawah-sawah dan kebun milik orang lain.

Sebelumnya, memang dikenal ada semacam sawah adat tempat makan para Bissu. Dari sanalah mereka bertanam padi dibantu oleh para to boto (lelaki pendamping Bissu). Tetapi, sayangnya, sawah-sawah adat itu telah diprivatisasi. Menjadi miliki individu dari orang-orang tertentu.

Bagi para Bissu yang tidak punya cukup tenaga untuk menjadi tenaga upahan, satu-satunya harapan mereka, adalah pada perlindungan sosial dari pemerintah (negara).

Tania Murray Li

Sayangnya, para Bissu ini sering kali luput dari jaringan pengaman sosial negara tersebut.  Boleh jadi, seperti kata Antropolog Tania Murray Li (2014), kelompok semacam Bissu ini bukanlah ancaman bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik, dan karenanya, pemerintah dapat mengabaikan tanpa takut akan konsekuensi yang ditimbulkan.

Problem kemiskinan yang mendera komunitas lokal, atau seniman semacam Bissu, kadang luput dari pantauan. Tidak hanya negara, tetapi juga pengamat sosial.

Soalnya, secara kasat mata, di tengah-tengah mereka, misalnya, tidak sedang terjadi perampasan alat produksi oleh satu perusahaan atau pun pemerintah.

Tidak juga terjadi, meminjam istilah Murray Li, ‘akumulasi primitif’ a la Marx. Tetapi, diam-diam, mereka telah dipecah-pecah menjadi individu-individu yang bersaing dalam memperebutkan pasar.

Persaingan memperebutkan pasar itu, akhirnya melahirkan satu sistem kapitalis tersendiri di tengah-tengah mereka. Yang tidak sanggup bertarung di dalamnya, bakal tersingkir dan jadi Bissu-Bissu yang miskin.

Apakah ini mirip dengan yang disebut oleh Murray Li dengan capitalism from below (kapitalisme dari bawah)?

Saya kira, penelitian Murray Li di masyarakat petani Laudje di dataran tinggi, Sulawesi Tengah, memang menunjukkan, kapitalisme tidak selamanya muncul di satu tempat. Ini disebabkan oleh hadirnya satu perusahaan di tempat tersebut yang membentuk hubungan-hubungan baru dalam perekonomian.

Kapitalisme bisa muncul sendiri di masyarakat akibat dari cara mereka merespons pasar. Inilah yang disebutnya tadi, kapitalisme dari bawah.

Merujuk Robert Brenner, ada dua cara masyarakat atau komunitas, merespons pasar. Pertama,  pasar dilihat sebagai pilihan dan kesempatan (market as opportunity). Kedua, pasar mau tidak mau (dipaksa), harus diterima (market as an compulsion).

Pada kasus Bissu, dua hal ini terjadi. Mereka pada awalnya harus menerima pasar disebabkan keterpaksaan.

Sebelumnya, para Bissu tidak mengenal komodifikasi tradisi dan komodifikasi berbagai tarian ritual. Mereka melakukan hal tersebut semata-mata kepentingan ritual adat dan kebutuhan masyarakat. Makan, minum, dan seluruh hajat hidup mereka, dipenuhi oleh pengurus adat di tingkat lokal atau jemaahnya.

Tetapi, belakangan, tradisi dan berbagai keterampilan mereka untuk menari, dibuatkan pasar oleh pihak pariwisata, bahkan oleh orang asing. Mereka dipaksa untuk menerima, bahwa mau tidak mau, tradisi dan kemampuan menari mereka, khususnya tari maggirik, harus bisa dijadikan komoditas untuk dijual di pasar.

Di antara para Bissu tersebut, pada akhirnya melihat hal ini sebagai kesempatan (market as opportunity), dan akhirnya berusaha untuk mengkreasi dan mengkomodifikasi tradisi sedemikian rupa agar laku dijual di pasar.

Proses ini akhirnya menciptakan persaingan di dalam tubuh komunitas Bissu. Bissu yang tadinya satu komunitas, kemudian terbagi-bagi menjadi kelompok kecil (small group). Grup-grup kecil inilah yang bersaing memperebutkan pasar.

Persaingan memperebutkan pasar ini, bahkan berkembang dalam bentuk mencari pengaruh dan modal sosial di masyarakat.

Untuk menabalkan pengaruhnya di masyarakat, grup-grup Bissu ini kadang-kadang membuat arajang-arajang (pusaka peninggalan leluhur) tandingan.

Sering pula mereka membuat ritual-ritual baru yang lebih memukau. Modal sosial ini dibutuhkan, agar grup-grup Bissu yang bersaing itu bisa menguasai pasar.

Dalam persaingan semacam ini, akhirnya ada yang terlempar dari pusaran. Tidak sanggup ikut dalam kompetisi memperebutkan pasar. Muncullah orang seperti Bissu Pajja, Uwa Mattang, dan lainnya, yang akhirnya sekarang berkubang dalam ngarai kemiskinan.

Temuan Murray Li, yang kemudian terbit pada 2014, dan kemudian diberi judul Lands End; Capitalist Relations on Indigenous Frontier (versi Indonesia, Kisah dari Kebun Terakhir; Hubungan Kapitalis di Wilayah Adat (2020), menunjukkan, para petani Laudje dengan sadar menerima pasar sebagai sebuah kesempatan. Namun, akibatnya membuat beberapa dari mereka terjatuh pada kemiskinan.

Sebaliknya, dalam komunitas Bissu, sebelum mereka menerima pasar sebagai sebuah kesempatan, terlebih dahulu mereka dipaksa dulu untuk menerimanya.

Dengan demikian, boleh dikata, kapitalisme yang muncul di komunitas Bissu tidak murni muncul dari bawah, tetapi pada mulanya didesakkan dari atas (capitalism from above).

Selama ini, pemerintah bahkan pendamping komunitas Bissu sendiri, mengabaikan persoalan ini. Disangkanya, dalam derap modernisasi dan kapitalisasi, para Bissu berhasil bernegosiasi dan mengkreasi tradisi mereka. Tidak hanya agar tradisi tetap bertahan, tetapi juga supaya mereka bisa tetap survive secara ekonomi.

Hal itu memang terjadi. Tetapi hanya bagi segelintir Bissu. Sementara yang lainnya, akhirnya terjatuh pada kubangan kemiskinan.

Kalau persoalan ini tidak menjadi perhatian bersama, tidak menunggu lama, Bissu boleh jadi tinggal kenangan. (*)


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait