Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Peneliti Bidang Pendidikan Garap Draf Modul Pendidikan Agama Kristen di Palopo
Kepala Balai Litbang Agama Makassar, Dr. H. Saprillah, M.Si, memberikan sambutan pada kegiatan pengembangan penyusunan draf Modul Pembelajaran Agama Kristen Berbasis Moderasi Beragama, di Hotel Harapan, Palopo, Senin, 5 April 2021. Foto: Saifullah.

Peneliti Bidang Pendidikan Garap Draf Modul Pendidikan Agama Kristen di Palopo

Senin, 5 April 2021
Kategori : Berita
41 kali dibaca

PALOPO, BLAM – Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), memulai program pengembangan penyusunan draft Modul Pembelajaran Agama Kristen Berbasis Moderasi Beragama.

Selama tiga hari, 5-7 April 2021, Peneliti Bidang Pendidikan BLAM bersama beberapa Guru Agama Kristen di Palopo, menggarap draf modul tersebut, di Hotel Harapan, Palopo.

Narasumber Pendeta Dr. Diks Pasande memberikan gambaran umum tentang ajaran-ajaran Kristen sebagai bekal awal untuk para guru dalam proses penyusunan modul berbasis Moderasi Beragama.

“Ajaran Kristen juga mempunyai keterkaitan dengan nilai-nilai Moderasi Beragama,” kata Diks Pasande, yang juga dosen di Sekolah Tinggi Teologi Intim Makassar.

Saat memberi sambutan, Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M. Si, menyatakan, Moderasi Beragama telah memenuhi ruang diskursus di masyarakat melalui kampanye yang dilakukan oleh kementerian agama sejak 2019.

"Tujuan dilaksanakan program penyusunan modul Moderasi Beragama adalah sebagai follow up dari kampanye Moderasi Beragama," ujarnya, Senin, 5 April 2021.

Dalam konteks penyusunan draf modul ini, katanya, tiga komponen hadir menjadi aktor, dan mereka saling berkolaborasi untuk mengisi ruang-ruang diskusi terkait Moderasi Beragama.

Tiga komponen tersebut adalah narasumber sebagai petunjuk dan pemberi pencerahan, Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai praktisi dan pelaksana, serta peneliti sebagai konseptor.

BLAM telah menyusun road map penelitian tentang Moderasi Beragama. Pada 2020, penelitian BLAM bertumpu pada upaya memperkaya konsep Moderasi Beragama dengan menggali sejauh mana pemahaman masyarakat tentang Moderasi Beragama.

“Dari hasil penelitian yang ada, Moderasi Beragama secara istilah belum dikenal dan menjadi sesuatu yang asing, baik secara sosial, akademik, ataupun pembelajaran. Meski begitu, ia secara substansi telah dikenali,” ujar Saprillah.

Menurut Saprillah, masyarakat sebenarnya telah melaksanakan nilai-nilai Moderasi Beragama, sehingga ia bukan lagi merupakan sebuah konsep asing di masyarakat.

“Moderasi beragama menjadi sebuah istilah yang bersifat universal untuk mewakili nilai-nilai lokal yang sudah teraplikasi di masyarakat,” katanya.

Pada 2021, penelitian BLAM mencoba melihat praktik-praktik Moderasi Beragama di masyarakat. Tema ini merupakan kelanjutan dari tema penelitian 2020, yang mencoba menguak berbagai konsep Moderasi Beragama di Indonesia.

Di bidang pendidikan sendiri, eksekusinya dilaksanakan antara lain melalui penelitian praktik pembelajaran Moderasi Beragama dengan memanfaatkan media kreatif. Di masa lampau, praktik-praktik Moderasi Beragama telah teraplikasi di Indonesia.

Harmonis

Pada 1970 hingga 1990-an, relasi antarumat beragama di Indonesia tampak harmonis. Ini dibuktikan dengan berdirinya rumah ibadat agama berbeda secara berdampingan.

“Relasi harmonis inilah yang menjadi warisan generasi saat itu, untuk generasi saat ini,” tuturnya.

Saprillah lalu menuturkan pengalaman masa remajanya ketika melaksanakan Salat Idul Fitri di masjid yang berseberangan dengan gereja. Karena jumlah jamaah banyak, pelaksaanaan Salat Idul Fitri kemudian dilaksanakan hingga memasuki pelataran gereja.

“Hal-hal baik di masa lalu bisa diwariskan kepada generasi sekarang. Salah satunya melalui proses pembelajaran agama berbasis moderasi,” imbuhnya.  

Pada kesempatan ini, Saprillah kembali mengingatkan tentang makna dari Moderasi Beragama itu sendiri.

Sebagai ruang terbuka, setiap orang berhak memberi definisi tentang Moderasi Bergama itu sendiri. Sebab, kata dia, Moderasi baragama adalah sebuah diskursus.

“Meskipun istilah Moderasi Beragama berasal dari kementerian agama, hal ini tidak bisa dikooptasi karena ia berada di ruang terbuka. Moderasi Beragama bersifat dialektika dan perdebatan yang menimbulkan berbagai macam definisi,” katanya.

Jika Moderasi Beragama ingin dikerangkakan, kata Saprillah, ada empat hal yang diklaim sebagai indikator Moderasi Beragama.

Empat indikator tersebut adalah penguatan kebangsaan, toleransi, pendekatan anti kekerasan, dan kontekstualisasi agama.

“Saya berharap, modul yang disusun teman-teman Peneliti Bidang Pendidikan ini bersumber dari empat indikator tersebut. Atau, dikuatkan dan diperluas dengan gagasan-gagasan baru,” tandasnya. (ful)


Sumber :

Penulis : AM Saifullah Aldeia

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP