Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
M. Kece dan Fenomena Kegaduhan Para Mantan
Foto Ilustrasi. Sumber gambar: republika.co.id

M. Kece dan Fenomena Kegaduhan Para Mantan

Jumat, 27 Agustus 2021
Kategori : Artikel Ilmiah
197 kali dibaca

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Baru-baru ini, viral seorang pria paruh baya. Mengenakan peci hitam berlambang Garuda melalui kanal Youtubenya, pria tersebut memicu kontroversi dengan videonya berisikan penghinaan terhadap agama Islam.

Pria tersebut bernama Muhammad Kece dan mengaku mantan Muslim. Ia tampil solo dengan ceramah yang isinya cukup provokatif, dengan ujaran bernada kebencian dan penghinaan terhadap ajaran Islam, yang notabene agama yang pernah dianut.

Sejak 2020, M. Kece mengunggah video ceramah di kanal Youtubenya. Ia menjelek-jelekkan dan melontarkan propaganda kebencian terhadap agama Islam, Al-Qur’an, dan Nabi Muhammad.

Lebih kurang 400 video telah diunggah di kanal Youtubenya, hingga kemudian menjadi viral.

Sontak, hal ini memantik reaksi publik, khususnya umat Islam. Mereka menyuarakan kegeraman dan menyebut M. Kece telah melakukan penghinaan agama dan harus dipidanakan.

Masyarakat awam hingga tokoh agama bersuara. Bahkan, Pengurus MUI hingga Menteri Agama, Yaqut Cholil Quomas, ikut bersuara dan menyebut M. Kece telah menyebarkan ujaran kebencian dan penghinaan terhadap agama.

Aparat kepolisian bertindak cepat dan menangkap M. Kece di tempat persembunyiannya, di Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Selasa malam, 24 Agustus 2021. Keesokan hari, ia diterbangkan ke Jakarta untuk diperiksa di Mabes Polri.

Kamera awak media merekam ekspresi M. Kece ketika tiba di Mabes Polri. Ia terlihat santai, sembari berteriak “Salam Sadar”, “Sadarlah Indonesia”, kata yang sering ia ucapkan dalam video-videonya.

Para Mantan

Sesungguhnya, apa yang dilakukan M. Kece, bukanlah fenomena baru. Ini merupakan fenomena para “mantan” yang tak kunjung move on, hingga terus-menerus menjelek-jelekkan agama yang pernah dipeluk sebelumnya.

Perlu digarisbawahi, fenomena kegaduhan para “mantan” ini tidak hanya terjadi pada satu agama.

Ada mantan Muslim yang pindah ke Kristen dan membuat gaduh seperti yang terjadi pada M. Kece.

Sebaliknya, ada juga “mantan” Kristen, bahkan mantan Hindu yang masuk Islam, yang kemudian getol berceramah tentang kejelekan agama sebelumnya, dengan isi ceramah provokatif.

Saya menyebutnya “kegaduhan para mantan”, yang mengglorifikasi dan mendramatisasi sosok dan pengalaman dirinya untuk disampaikan kepada publik.

Tampak ada perasaan kebesaran atau sindrom megalomania, yang membuatnya merasa sebagai orang besar yang terpilih mendapatkan pencerahan, serta mengemban tugas untuk menyampaikan kebenaran dengan cara-cara provokatif.

Tentunya, tak semua “mantan” bersikap demikian. Tak sedikit pula, mereka yang dengan kesadaran pindah agama, tetap bersikap santun dan tidak menjelek-jelekkan agama sebelumnya.

Bahkan, ada yang hingga menjadi tokoh di agama barunya, namun tetap pada koridor ceramah santun.

Namun, ulah para “mantan” yang bikin gaduh tersebut, meski jumlahnya tak banyak, tetapi sangat rentan memicu keresahan di tengah publik. Ulahnya itu, tentu saja, dapat merusak kerukunan antarumat beragama yang selama ini telah terjalin.

Semakin gaduh ketika sang “mantan” tersebut mengglorifiaksi dirinya dengan menceritakan, bahwa ia adalah tokoh atau bukan orang sembarangan di agama sebelumnya.

Belum lama ini, viral seorang pria yang masuk Islam dan mengaku anak kardinal, ada pula seorang mualaf berceramah mengaku doktor alumni Vatikan, dan ada pula seorang mantan Kristen, yang kemudian menjadi pendakwah dan mengaku tokoh dan pernah menjadi rektor di salah satu universitas Kristen.

Glorifikasi juga terjadi pada beberapa mantan Muslim yang pindah agama kemudian mengaku, bahwa sebelumnya ia bukan orang sembarangan.

Ada mantan Muslim, yang kemudian menjadi penginjil, dan mengaku sebelumnya qariah nasional yang sering menjuarai MTQ. Ada pula yang mengaku mantan ustaz besar dan kini beralih profesi menjadi pendeta.

Pergumulan intelektual dan pengalaman spiritual juga tak luput dari glorifikasi dan dramatisasi oleh beberapa ”mantan.”

Ada yang mengaku masuk Islam setelah mempelajari Alkitab, namun ada juga mengaku masuk Kristen, setelah mempelajari Al-Qur’an. Belum lagi, glorifikasi atas pengalaman spiritual yang membuatnya mendapat “hidayah” untuk pindah agama.

Sangat mungkin euforia dan panggung menjadi motif para ”mantan” tersebut untuk mengglorifikasi kepindahannya.

Hadirnya “pendatang baru” di sebuah agama, terlebih jika orang tersebut mengaku tokoh di agama sebelumnya, menjadi magnet bagi sebagian umat agama untuk semakin mendapatkan peneguhan iman.

Hal inilah yang menggoda para ”mantan” untuk melakukan panjat sosial dan mendapatkan panggung, sehingga ia kemudian ditokohkan dan dipuja-puja oleh sebagian penganut agama barunya. Jika sudah demikian, motif “pendapatan” semakin menarik untuk terus membuat gaduh.

Sikap Moderat

Ketersinggungan akibat gaduhnya para “mantan” adalah hal manusiawi. Meski begitu, ekspresi ketersinggungan yang harus dijaga untuk tidak berujung pada tindakan-tindakan anarkis.

Aturan hukum di Indonesia memungkinkan orang yang melakukan penistaan agama dapat dipidana sebagai delik aduan.

Lakukanlah langkah hukum dan hargailah prosesnya, dengan tanpa harus memasukkan muatan dan motif politis di dalamnya.

Sikap keberagamaan yang moderat, tentu penting untuk meminimalisir kegaduhan yang ditimbulkan, utamanya oleh para ”mantan”. Sikap iman yang dewasa dengan tanpa harus antusias untuk menjelekkan agama dan keyakinan lain.

Sikap keberagamaan moderat memungkinkan kedewasaan iman yang mempertimbangkan kemaslahatan bersama dalam realitas sosial yang bhineka, hingga tidak larut dalam euforia emosi keagamaan, yang dapat memicu retaknya relasi sosial dan koyaknya toleransi.

Bila tersinggung atau marah ketika ada mantan penganut agama kita yang menjelek-jelekkan, dan bahkan menghina agama kita. Maka, kita pun mesti pula jengah bila ada pendatang baru di agama kita yang menjelek-jelekkan agama yang dianut sebelumnya.

Sikap seperti ini jika merata di kalangan umat beragama, maka para “mantan” tersebut tak akan mendapatkan panggung untuk membuat gaduh. (*)


Sumber :

Penulis : Sabara Nuruddin

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP