Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Live Report Peneliti BLAM dari Palopo: Mahasiswi IAIN Palopo yang Dibaiat Sempat Syok dan Trauma
Peneliti BLAM, Sabara dan Arafah, berbincang-bincang dengan mahasiswa IAIN yang dibait, Senin, 23 November 2020. Foto: Istimewa.

Live Report Peneliti BLAM dari Palopo: Mahasiswi IAIN Palopo yang Dibaiat Sempat Syok dan Trauma

Selasa, 24 November 2020
Kategori : Berita
54 kali dibaca

PEKAN kedua November 2020, Kota Palopo heboh. Video berisikan baiat mahasiswi IAIN Palopo, yang dilakukan kelompok keagamaan tertentu, beredar dan viral di media sosial. Stasiun televisi, RCTI dan Kompas TV, ikut pula menayangkan. Tayangan video ini pun memantik reaksi pemerintah daerah dan warga masyarakat setempat.

Peristiwa tersebut terjadi Senin, 9 November 2020, di sebuah rumah di Kawasan Perumnas, Kota Palopo. Merasa janggal, seorang mahasiswi yang ikut dibaiat, merekam langsung jalannya proses pembaiatan.

Berikut teks baiat yang dibaca mahasiswi tersebut:

Atas nama tuan semesta alam yang maha pengasih dan penyayang, saya bersaksi:

  1. Bahwa tidak ada tuan yang saya patuhi kehendak dan perintahnya selain tuan semesta alam tuan yang maha esa.
  2. Bahwa mesias adalah saksi tuan semesta alam untuk menggenapi segala kehendak dan perintahnya bagi umat manusia.
  3. Di bawah bimbingan saksi-saksi tuan semesta alam, saya sanggup berkorban harta dan diri saja dalam mewujudkan kehendak dan renacana tuan semesta alam yang akan menjadikan kehidupan damai sejahtera di muka bumi.

***

Minggu malam, 22 November 2020, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) menugaskan penelitinya, Sabara Nuruddin dan Sitti Arafah, bertolak menuju Kota Palopo.

Di daerah yang terkenal dengan buah durian ini, mereka akan melakukan riset fact finding, yang merupakan salah satu metode BLAM untuk mendalami kasus-kasus aktual yang menjadi perbincangan publik.

Dari Palopo, berikut laporan langsung Sabara Nuruddin dan Sitti Arafah, Selasa, 24 November 2020:

Kami tiba di Palopo, Senin pagi, pukul 09.00 Wita. Setelah beristirahat sejenak, kami langsung menuju Kampus IAIN Palopo untuk memulai pencarian data terkini.

Tiba di kampus yang berlokasi di kawasan Balandai, kami diarahkan ke ruangan Prodi Pendidikan Matematika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Sebab, mahasiswi yang ada di dalam video viral tersebut berasal dari Prodi Pendidikan Matematika.

Berkat bantuan Nilam, Sekprodi Pendidikan Matematika, kami dipertemukan dengan tiga mahasiswi, yang dua di antaranya berada di lokasi kejadian, saat video tersebut diambil.

Secara terbuka, mereka menceritakan kronologi kejadian seputar video tersebut. Tulisan ini merupakan kronologi kejadian berdasarkan penuturan mahasiswi tersebut yang kami temui. Sedangkan kronologi versi tokoh kelompok keagamaan yang mengambil baiat tersebut, hingga berita ini naik, kami masih terus mengupayakan untuk mengonfirmasinya.

Tiga mahasiswi IAIN Palopo yang dibait adalah Riska, Nunung, dan Novriana. Mereka mahasiswi PPL, yang praktik mengajar di SMPN 8 Palopo, letaknya bersebelahan Kampus IAIN Palopo. Saat menjadi mahasiswi PPL, mereka dibimbing Hasma Yunus, Guru Pamong.

Kejadian tersebut bermula Sabtu, 5 September 2020, berselang dua hari setelah mereka memulai PPL di SMPN 8. Oleh Hasma, tiga mahasiswi bimbingannya itu diajak ke rumahnya dengan alasan acara makan kapurung (makanan khas Palopo terbuat dari sagu).

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, tiga mahasiswi tersebut, beserta seorang temannya lagi, Asmi, memenuhi ajakan Hasma. Sampai di rumah Hasma, mereka ternyata tidak disuguhi makan kapurung, melainkan diberikan “materi keagamaan” oleh suami Hasma, Ir. Hasbi.

Istilah pemberian materi, adalah memberikan pembekalan “wahyu.” Pada pertemuan awal, mereka sama sekali tak menaruh curiga. Selain materi yang disampaikan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an, mereka juga tak curiga karena melihat keseharian Hasma yang mengenakan cadar.

Pertemuan kedua, 3 Oktober 2020, mereka kembali dipanggil dengan dalih “acara Kapurung.” Namun, sampai di rumah Hasma, mereka lagi-lagi diberikan materi keagamaan.

Setelah penyampaian materi, mereka diminta mengucapkan perjanjian pertama, yang di antara isinya adalah berjanji untuk tidak berzina dan tidak mencuri. Mereka berempat mengucapkan perjanjian tersebut dengan dituntun Hasma.

Pertemuan ketiga, 23 Oktober 2020, mereka kembali dipanggil ke rumah Hasma. Namun, kali ini, Riska berhalangan hadir. Ia harus pulang kampung merawat ibunya yang sakit. Alhasil, pertemuan hanya dihadiri tiga orang; Nunung, Novri, dan Asmi.

Pada pertemuan ini, mereka kemudian diberikan materi lanjutan, yang belum sempat dituntaskan pada pertemuan pertama, seperti dasar-dasar keyakinan dengan menggunakan ayat-ayat tertentu. Mereka juga mulai dicecar pertanyaan, seperti: “Bersediakah kamu berjalan dijembatan sirat al mustaqim?”

Pada saat dilontarkan pertanyaan tersebut, ketiganya tak bisa berkata apa-apa. Mereka cuma terdiam membisu. Namun, di sinilah mereka mulai berpikir: “Sebenarnya, ini ada apa? Dan, mengapa seperti itu yang dibahas?”

Hasbi kemudian mengatakan kepada mereka; “Jika telah berjalan di sirat al-mstaqim, maka risiko nanti tidak ada orang yang senang. Pasti akan banyak yang membenci jika berdiri di situ.” Ketiganya kemudian semakin bingung dengan pernyataan tersebut, tetapi sungkan bertanya.

Pada pertemuan berikut, 3 November 2020, tidak ada pembahasan materi. Namun, tiga mahasiswi ini tetap bertandang ke rumah Hasmi. Hanya saja, hari itu, Hasbi (suami Hasma),  lagi menggarap empang.

Rupanya, terjadi miskomunikasi antara Hasma dengan ketiga mahasiswi ini, yang dianggapnya tidak datang. Jadi, pada tanggal itu, acara yang berlangsung “benar-benar” makan kapurung.

Keesokan hari, 4 November 2020, mereka dipanggil untuk diberikan materi mengenai sembilan dasar keilmuan. Tetapi yang dibahas pada waktu itu hanya sekitar empat pembahasan

Pemberian materi biasanya dimulai pukul 09.00 Wita hingga makan siang. Setelah itu, dilanjutkan lagi pukul 14.00 Wita. Selama diberikan materi, tiga mahasiswi ini mengaku tidak pernah melihat Hasma dan keluarganya salat.

Karena waktu itu belum selesai membahas “sembilan dasar keilmuan”, maka dilanjutkan lagi pertemuan berikutnya. Dan, pada akhir materi sekitar pukul 17.00 Wita, mereka diminta untuk melakukan baiat.

Selain Hasma dan suaminya, ada lagi tiga orang lain yang hadir sejak pertemuan kedua, yaitu seorang laki-laki yang bertindak selaku moderator dan sepasang suami-istri, yang juga mengikuti materi. Total di rumah tersebut delapan orang, termasuk tiga mahasiswi tadi.

Pada pertemuan 9 November 2020, pemberian materi disampaikan secara daring menggunakan aplikasi zoom meeting oleh seseorang dari Makassar. Setelah pemberian materi, satu per satu diminta berdiri dan membaca baiat pada tulisan slide yang ditampilkan.

Saat Nunung membaca baiat tersebut, di situlah Novriana berinisiatif merekam sembunyi-sembunyi. Ia menyadari, ada kejanggalan dan perlu ada dokumentasi kuat untuk dijadikan bukti.

Keesokan hari, 10 November 2020, Novriana melapor ke Penasehat Akademik (PA), Mardi Takwin. Dengan menyerahkan video tersebut, Mardi lalu menghubungi pihak sekolah. Dari sinilah, video tersebut akhirnya menjadi viral di media sosial.

Nunung, yang tampak dalam tayangan video tersebut, sempat mengalami syok saat videonya beredar luas dan viral. Terlebih lagi, muncul beragam komentar di media sosial mengenai rekaman video tersebut yang tidak sesuai kenyataan sebenarnya.

“Saya sempat syok dan bahkan tidak berani keluar rumah, Kak,” kata Nunung.

“Kalau mengingat-ingat kejadian itu, saya masih trauma, Kak” kata Asmi.

Namun, saat kami menemui Nunung dan Asmi, dan kemudian berbincang-bincang dengan mereka, keduanya mengaku kondisi psikologisnya sudah membaik.

“Alhamdulillah, sekarang ini kami sudah baik, Kak. Tidak seperti saat pertama kali video kami beredar dan viral,” ujar Nunung dan Asmi, berbarengan. (sab)


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

Tidak ada berita terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP