Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Kepala BLAM Saprillah: Moderasi Beragama Harus Membumi!
Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, memberi sambutan pada seminar akhir Peneliti Bidang Pendidikan BLAM terkait Inovasi Pembelajaran Moderasi Beragama melalui Media Kreatif di KTI, di Hotel Claro Kendari, Kamis, 20 Mei 2021. Foto: Saifullah.

Kepala BLAM Saprillah: Moderasi Beragama Harus Membumi!

Kamis, 20 Mei 2021
Kategori : Berita
109 kali dibaca

KENDARI, BLAM – Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menggelar seminar akhir penelitian tahap pertama 2021, di Hotel Claro Kendari, Kamis, 20 Mei 2021.

Tema penelitian yang mereka angkat adalah Inovasi Pembelajaran Moderasi Beragama melalui Media Kreatif di Kawasan Timur Indonesia.

Peneliti yang menyajikan makalah adalah Amiruddin (Kendari), Badruzzaman (Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan), Baso Marannu (Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan), Khairun Nisa’ (Palu, Sulwesi Tengah), dan Asnandar (Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara).  

Kegiatan ini dihadiri pula Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Tenggara, H. Fesal Musaad, M.Pd, dan para peserta yang terdiri atas tenaga pendidik di madrasah dan sekolah umum di Sulawesi Tenggara.

Sementara yang menjadi narasumber adalah Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr. H. Hamdar Arraiyyah, dan Dosen Universitas Halu Oleo Kendari, Dr. Pendais Haq.

Koordinator penelitian Amiruddin, menyatakan, riset yang timnya lakukan ini menyasar tenaga pendidik di madrasah.

Penelitian ini berfokus pada pemanfaatan media kreatif untuk menyampaikan nilai-nilai Moderasi Beragama kepada peserta didik. Sedangkan yang menjadi unit analisisnya, adalah tenaga pendidik sebagai pelaksana proses pembelajaran, dalam hal ini, mereka yang telah mengikuti maupun belum mengikuti pendidikan latihan tentang Moderasi Beragama.

Amiruddin, yang meneliti di Kendari, menyatakan, tenaga pendidik di kota ini selama masa pandemi Covid-19 menyesuaikan rencana pembelajaran mereka. Di antaranya, mereka menerapkan pembelajaran jarak jauh.

“Tantangan terbesar tenaga pendidik dalam pembelajaran jarak jauh, adalah pemantauan terhadap perkembangan sikap peserta didik. Dengan begitu, mereka juga dituntut untuk memanfaatkan aplikasi-aplikasi berbasis online, agar proses pembelajaran tetap berlangsung,” katanya.

Amiruddin juga menemukan, komunitas tenaga pendidik di Sulawesi Tenggara membentuk juga sebuah komunitas sebagai wadah belajar tenaga pendidik, yang menekankan pada pola pembelajaran synchronous learning dan asynchronous learning.

“Jenis-jenis media kreatif yang digunakan tenaga pendidik, adalah media visual, media audio, dan media audio visual,” katanya.

Di Pinrang, Badruzzaman, mengemukakan, Moderasi Beragama tidak menjadi mata pelajaran khusus, melainkan menjadi pokok/sub pokok bahasan pada mata pelajaran tertentu.

Contoh sub bahasan Moderasi Beragama, adalah tasamuh, pemahaman wasathiyah, aliran ilmu kalam, toleransi, anti kekerasan, demokrasi, wawasan kebangsaan, keragaman suku, agama, dan budaya. Pokok/sub pokok bahasan tersebut tersebar di beberapa mata pelajaran berbeda.

“Karena tidak ada materi khusus pembelajaran Moderasi Beragama, tenaga pendidik melakukan pendekatan kreatif inovatif dan mengaitkan Moderasi Beragama dengan materi-materi pembelajaran, yang dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai Moderasi Beragama dalam materi pembelajaran,” katanya.

Inovasi pembelajaran tenaga pendidik di Pinrang, adalah mengombinasikan pendekatan pembelajaran teacher centred learning (TCL) dan student centred learning (SCL).

“Pendekatan kreatif ini perlu lebih diintensifkan dalam proses pembelajaran Moderasi Beragama. TCL digunakan dalam pemahaman konsep, sedangkan SCL digunakan pada kontekstualisasi konsep,” ujar Badruzzaman.

Kakanwil Kemenag Sultra

Kepala Kanwil Kemenag Sultra, H. Fesal Musaad, M.Pd, dalam sambutannya, menyatakan, riset yang dilakukan BLAM, apalagi menyasar tenaga pendidik di madrasah, merupakan terobosan untuk membangun mutu pendidikan dan literasi, dan keterbukaan terhadap nilai-nilai Moderasi Beragama.

Sasaran empuk radikalisme adalah siswa dan mahasiswa. Ini disebabkan oleh psikologi remaja yang masih labil dan rentan dipengaruhi oleh informasi-informasi yang mereka peroleh dari berbagai sumber,” katanya.

Menurut kakanwil, radikalisme dan terorisme bertentangan dengan nilai-nilai di Indonesia. Ia menyatakan, ada dua pendekatan melawan paham radikalisme, yaitu pendekatan keras yang dimiliki oleh aparat berwenang, dan pendekatan lunak.

“Pendekatan ini diaplikasikan dalam bentuk deradikalisasi melalui jalan diskusi maupun penguatan di bidang pendidikan. Setidaknya, dengan senjata, Anda bisa membunuh teroris. Tapi,  dengan pendidikan, Anda bisa membunuh terorisme,” kata Fesal Musaad.

Dalam sambutannya, Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, menyatakan, Moderasi Beragama digagas oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, sejak 2019. Moderasi Beragama lahir sebagai kontra terhadap diksi-diksi radikalisme dan terorisme.

“Yang dimoderasi adalah cara kita beragama sebagai kontra terhadap ekstremisme dan radikalisme. Moderasi Beragama merupakan ajakan negara untuk beragama secara moderat, adil, dan toleran,” kata Saprillah.

Sebenarnya, kata Saprillah, semangat Moderasi Beragama telah digagas oleh para founding fathers Islam di Indonesia, di awal proses penyebaran Islam. Ini bisa ditemukan dalam naskah-naskah klasik yang tersebar di Indonesia

Sementara itu, lanjut Saprillah, belum ada payung hukum dari pemerintah terhadap pengembangan Moderasi Beragama di Indonesia, yang kemudian berimplikasi pada banyak hal. Salah satunya dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Moderasi Beragama tidak menjadi satu mata pelajaran khusus, melainkan menjadi sebuah nilai yang diinternalisasikan dalam mata pelajaran tertentu,” kata Ketua Lakpesdam PWNU Sulsel, ini.  

Saprillah berharap, Moderasi Beragama tidak menjadi politis dan elitis, yang hanya diketahui oleh kalangan akademisi maupun petinggi negara saja.

“Moderasi Beragama harus membumi dan bisa diterima oleh masyarakat banyak,” imbuhnya. (ful)


Sumber :

Penulis : Saifullah

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP