Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Game Online, Agama, dan Budaya Populer
Sumber gambar: bobo.grid.id

Game Online, Agama, dan Budaya Populer

Minggu, 22 Agustus 2021
Kategori : Artikel Ilmiah
128 kali dibaca

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Apakah musuh Islam saat ini masih kita anggap berasal dari ajaran Kristus atau Yahudi? Bila Anda menanyakan itu pada Bryan S Turner, Sosiolog terkemuka abad XX,  ia akan menjawab: bukan.

Musuh nyata Islam saat ini, katanya, adalah Madonna, Lady Gaga, Katy Perry, drakor, game online, dan sebangsanya.

Singkatnya, budaya popular yang dihela kapitalis adalah musuh aktual, bagi agama Islam. Sejarah pertarungan ideologi, sebagaimana diyakini Daniel Bell atau Fukuyama, telah berakhir.

Sejak komunisme ambruk, nyaris tidak ada lagi lawan tanding yang sepadan dengan kapitalisme-liberalisme. Kapitalisme telah menguasai dunia.

Bahkan, negara-negara yang dulunya fanatik komunisme, kini juga telah menjadikan kapitalisme sebagai urat nadi ekonomi pasar mereka.

Dalam situasi demikian, kata Hungtington dalam The Clash of Civilization and the Remaking  of World Order, konflik dalam masa yang akan datang tidak lagi disebabkan oleh pertarungan ekonomi, ideologi, dan politik.

Pertarungan akan bergeser pada kontestasi identitas kebudayaan Barat dan Timur, yang direpresentasikan oleh Islam.  

Apa yang dibayangkan oleh Hungtington, sebagiannya telah terlihat. Di tengah merangseknya kebudayaan modern (Eropa) di seantero pelosok negeri, agama (Islam) yang semula hanya ada di pojok musallah dan di ruang-ruang privat, kembali ditengok ulang. Peradaban timur dalam naskah-naskah klasik mulai dikais-kais. 

Pada Islam dan Peradaban Timur itulah, harapan perlawanan atas dominasi budaya Barat disandarkan.  Identitas Islam tampil menyeruak mencoba melakukan perlawanan atas  kebudayaan Eropa. 

Nilai-nilai dan ajaran Islam diajukan untuk menolak kebudayaan Barat yang terus merangsek ke segenap lini kehidupan kita. 

Sayangnya, sejauh ini dalam perlawanan terhadap budaya-budaya Barat, Islam tampaknya gagal menampilkan budaya tanding. Kita hanya bisa mengklaim memiliki peradaban sendiri yang (pernah) cemerlang, tetapi gagap meletakkannya di masa kini.

Di tengah dominasi peradaban Barat-modern, umat Islam mengalami gegar budaya. Budaya popular Barat, seperti budaya madonaisme, drakorisme, dan seterusnya, hanya bisa dilawan dengan cara-cara normatif; larangan atau pengharaman.

Apa yang dilakukan oleh Taliban saat berkuasa di Afganistan (kini mereka kembali berkuasa), adalah contoh bagaimana cara Islam menghadapi penetrasi budaya popular Barat.

Mereka melawan seluruh budaya barat yang ditampilkan melalui telenovela, konser musik, film,  dan seterusnya dengan melakukan pelarangan keras. Mereka melarang masyarakat Muslim menonton televisi, apalagi sampai menonton konser.

Yang kedapatan, televisinya dihancurkan dan orangnya juga dihukum berat. Feminisme Barat dilawan dengan pelarangan perempuan keluar rumah dan seterusnya.    

Beberapa kelompok Islam di Indonesia, meskipun tidak seekstrem Taliban di Afganistan, juga mengambil langkah serupa.

Masih ingat dengan kasus Majalah Playboy lebih  satu dasawarsa silam? Saat itu, Indonesia dihebohkan dengan kemunculan majalah yang dianggap bisa merusak moral generasi muda Indonesia. 

Saat itu pun, sebagian kalangan Islam di Indonesia menanggapinya dengan sikap emosional. Dalil dan norma-norma dikerahkan untuk melakukan pelarangan terhadap majalah tersebut. 

Demikian halnya kasus goyang ngebornya Inul, sekali lagi, kaum beragama hanya bisa melakukan perlawanan dengan menuntut pelarangan. Inul harus dilarang tampil di panggung-panggung pertunjukan. 

Boleh jadi, tuntutan pelarangan atas nama agama tersebut bisa dipenuhi, tapi siapa yang bisa menjamin tidak akan lahir budaya-budaya semacam Playboy di kemudian hari? 

Dan, begitulah kenyataannya. Majalah Playboy memang akhirnya dilarang terbit, tapi segera setelah itu, bermunculan budaya-budaya popular lainnya.

Konser Madonna dan Lady Gaga, misalnya, pernah dirancang digelar di Jakarta. Memang, konser itu juga gagal. Lagi-lagi, karena tuntutan sekelompok Islam yang meminta pagelaran musik tersebut dibatalkan.

Namun, pelarangan dengan cara semacam itu, sama sekali tidak bisa menghentikan tumbuh dan berkembangnya budaya popular a la Barat di Indonesia.

Telenovela, yang merupakan budaya popular di Barat, misalnya, mulai menjadi budaya popular yang sangat digandrungi masyarakat Muslim di negeri ini.

Drakor dan Game Online di Era Internet

Di era internet, penetrasi budaya populer barat semakin menjadi-jadi. Setiap waktu, ia bisa hadir di depan kita. Di kota-kota, di pelosok desa, hingga di lereng-lereng gunung, di ruang publik sampai di kamar yang paling pribadi, berbagai budaya populer dengan mudah bisa tampil.

Di antara yang sedang membudaya di tengah masyarakat kita, salah duanya adalah drakor (drama korea) dan game online. Kedua-duanya kini sangat mudah diakses. 

Kalau Anda punya Smart Phone dan kuota, selama ada jaringan internet, maka bisa dipastikan Anda bisa mengakses drakor maupun game online tersebut.

Akibat kuatnya penetrasi drakor dalam kehidupan masyarakat, khususnya ibu-ibu, mengakibatkan sebagian ibu-ibu bisa lebih khusyuk menonton drakor daripada membaca kitab suci.

Mereka lebih menantikan episode berikutnya dari telenovela yang sedang dinonton, dibanding menanti jadwal pengajian selanjutnya di masjid. 

Setali tiga uang dengan drakor, demikian halnya game online. Game yang dimainkan dalam jaringan internet itu, sekarang sedang merajalela. Game online ini mewabah di kalangan anak-anak.

Smart Phone dengan internet yang diharapkan menjadi tempat untuk belajar, berubah menjadi sarana bermain game online.

Sekali lagi, dalam situasi semacam itu, para tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan meresponnya dengan meminta pemerintah melakukan pelarangan. Semua sama-sama bersuara untuk memblokir game online.

Khusus untuk game online, permintaan beberapa kalangan untuk memblokirnya memang tampaknya beralasan.  

Game online, di samping mengalihkan perhatian anak-anak dari belajar, juga dianggap berdampak secara psikologi maupun kesehatan. Bahkan, game online dianggap memiliki korelasi yang kuat dengan kekerasan anak.

Tetapi, dengan sekadar meminta memblokir tanpa melahirkan budaya popular tandingan, itu hanya bisa menghentikan sesaat.

Selanjutnya, anak-anak akan mencari bentuk-bentuk yang serupa, melalui dunia internet yang semakin mudah diakses.

Dalam dunia yang sudah dikuasai sedemikian rupa oleh kapitalisme, prinsip laizes faire dan laizzes passer (lakukan saja dan biarkan berlalu/gambaran kebebasan melakukan sesuatu), tidak bisa lagi dikendalikan oleh pelarangan, bahkan meskipun  dengan menggunakan norma-norma agama.

Satu satunya cara adalah dengan menghadirkan kemungkinan atau alternatif lain. Di sinilah daya kreatif umat Islam ditantang untuk menghadirkan budaya popular tandingan.

Yang menggembirakan, saat ini memang telah bermunculan kreasi budaya popular yang lebih mendidik dan mengandung nilai-nilai keagamaan.

Dan, justru internetlah yang mempermudah banyak kalangan untuk melakukan berbagai kreasi-kreasi positif tersebut.

Ada pula sebagian kalangan umat Islam saat ini, yang mendorong munculnya identitas Islam tanpa harus melawan secara frontal terhadap sistem kapitalisme-modernisme.  

Mereka malah memanfaatkan sistem kapitalisme untuk mendorong munculnya identitas Islam. Maka, muncullah misalnya sistem Perbankan Syariah, Perumahan Syariah, Hijrah Fest, dan seterusnya. 

Cara yang terakhir itu juga bisa dianggap sebagai bentuk budaya tanding terhadap budaya popular a la Barat. Hanya saja, dengan cara memanfaatkan sistem kapitalisme itu sendiri. Ada simbiosis mutualisme dalam hal ini.  

Tetapi, betulkah demikian? Entahlah. Tetapi, kata Hikmat Budiman, jalin kelindan agama dan kapitalisme, adalah hubungan yang parasitis.

Dalam hubungan parasitis itu, kapitalisme adalah benalu yang terus menerus menggerogoti kehidupan agama.

Pada akhirnya, saya tidak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Apakah tesis Hungtington yang benar, bahwa identitas peradaban Timur-Islam akan menjadi lawan tangguh dari identitas kebudayaan Barat? Atau, justru seperti yang dikatakan Fukuyama, sejarah telah berakhir.

Pertarungan ide-ide dan peradaban telah usai dan kapitalisme-liberalisme, adalah pemenangnya.

Saya dan mungkin juga Anda hanya bisa menunggu, sejarah sedang bergerak ke arah mana. (*) 


Sumber :

Penulis : Syamsurijal

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP