Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Dokter Louis, Kita, & Covid-19
Sumber gambar: idntimes.com

Dokter Louis, Kita, & Covid-19

Jumat, 16 Juli 2021
Kategori : Artikel Ilmiah
246 kali dibaca

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dokter Louis Owien tiba-tiba saja viral. Pandangan-pandangannya soal Covid-19 dalam beberapa video, laris manis di berbagai media sosial. Pendapatnya menantang arus umum kedokteran, virologis, dan epideminolog.

Alih-alih ikut mengampanyekan pencegahan penyebaran Covid-19, ia malah menganggap, virus korona itu tidak pernah ada.

Selain itu, Louis dengan enteng menyebutkan, bahwa lebih kurang 66 ribu kematian bukan disebabkan virus korona, melainkan interaksi obat yang diberikan pada pasien.

Klaim Louis ini sebenarnya belum teruji secara sains. Beberapa ahli segera membantah pernyataan tersebut.

Misalnya, Zullies Ekawati. Guru Besar Fakultas Farmasi UGM ini menyebutkan, interaksi obat tidak serta merta menimbulkan kematian. Sering kali malah berdampak positif.

Jika kemudian ada dampak negatifnya, lanjut Zullies Ekawati, yang terjadi adalah mengurangi efek obat lain, atau meningkatkan efek yang tidak diinginkan dari obat tertentu.

Pernyataan serampangan Louis ini juga dianggap bertolak belakang dengan fakta yang terjadi saat ini.

Masalahnya, begitu banyak pasien Covid-19 yang justru merasa kewalahan, karena isolasi mandiri. Mereka sesak napas dan kekurangan oksigen, yang tidak serta merta bisa ditangani, lantaran mereka tidak berada di rumah sakit.

Lebih dari itu. Pernyataan Louis ini sama sekali tidak memberikan solusi apa-apa. Jika, misalnya, memang dianggap tidak ada Covid-19, lalu bagaimana seharusnya menangani pasien-pasien saat ini yang semakin mengular dan berjubel?

Louis sama sekali tidak memberikan jawaban untuk hal itu.  Pernyataan Louis ini, sebaliknya,  justru mengacaukan penanganan Covid-19 yang sedang berlangsung. Banyak orang tidak ingin diperiksa, takut ke rumah sakit, dan akhirnya kritis.

Kendati demikian, tetap saja banyak orang yang memercayainya; menyebar video-videonya, diundang bicara di sejumlah kanal You Tube dan mengisi acara di salah satu stasiun TV swasta. Mengapa bisa begitu?

Fenomena orang-orang yang percaya pada Louis, sesungguhnya adalah cermin sebagian dari kita. Kita ingin Covid-19 sebenarnya tidak ada, hanya ciptaan, hanya diskursus yang terbentuk, karena konspirasi pengetahuan, tetapi pada hakikatnya tidak ada.

Kita ingin bahwa apa yang terjadi ini hanyalah mimpi, dan esok ketika bangun, semuanya baik-baik saja.

Kita menginginkan peristiwa ini hanya film yang kita simak dari drama Korea, dan setelah TV dimatikan, semua kembali seperti semula.

Namun, kenyataannya, orang-orang di sekitar kita satu per satu bertumbangan, rumah sakit penuh sesak, dan kematian meningkat pesat.

Harapan dan kenyataan begitu senjang. Lalu datanglah orang seperti Louis ini dan orang-orang lainnya dengan teori konspirasi.

Dengan menyandang gelar dokter, dengan posisinya yang dianggap ahli, dan pernyataan yang dibangun dengan alur yang seakan masuk akal, harapan kita seakan menemukan pegangannya. 

Maka, kita pun begitu percaya pada pendapat yang belum teruji kebenarannya, tetapi selaras dengan yang kita harapkan.

Ada dua kemungkinan dari kita yang tiba-tiba percaya pada apa yang dikatakan oleh Louis dan para penganut teori konspirasi.

Pertama, kita sungguh-sungguh berharap situasi ini memang tidak terjadi. Situasi yang sungguh tidak menyenangkan.

Aktivitas dibatasi, ibadah hanya boleh di rumah, tidak bisa berkumpul dan bercengkerama dengan teman-teman, bepergian dilarang, berita orang sakit terus terdengar, kabar orang meninggal setiap waktu meneror.

Sementara itu, di sisi lain, solusi tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Vaksin yang diharapkan, sampai hari ini belum menunjukkan hasil signifikan.

Berbagai aktivitas untuk mencegah penularan, misalnya, pembatasan kegiatan masyarakat memang untuk sementara bisa meredam laju penyebaran covid. Akan tetapi, begitu masyarakat kembali beraktivitas, virus kembali menyerang dan grafik penyebarannya menanjak.

Ketika Turnamen Sepakbola Piala Eropa 2021 dihelat di Eropa, penonton beramai-ramai menyemangati timnya langsung dari stadion.

Ada secercah harapan di sana, covid (seakan) sudah tak ada lagi. Kita mulai gembira, Eropa telah berhasil melawan Covid-19.

Sayangnya, begitu pagelaran usai digelar dan euforia telah ditelan kesunyian, muncul kembali berita tidak nyaman. Beberapa negara di Eropa kembali menanjak grafik Covid-19-nya.

Kemungkinan kedua, dan ini yang justru problem, keyakinan kita terhadap orang-orang semacam Dokter Louis ini hanya menunjukkan, bahwa pandemi Covid-19 ini menegaskan, kita betul-betul berada di era post truth. Zaman di mana, seperti disebut Tom Nichols, kita tidak lagi memerlukan argumen berdasarkan prinsip ilmiah dan data.

Yang paling penting bagi kita, apakah pernyataan itu selaras dengan kepentingan, emosi, dan ideologi kita? Tidak penting lagi apakah pernyataan itu sudah teruji; berbasis data, melalui riset, telah diverifikasi dan difalsifikasi, atau tidak.

Kita lebih memercayai perkataan seorang Dokter Louis. Padahal, pernyataannya itu hanyalah sebuah argumen spekulatif tanpa riset dan data yang jelas, dibanding dengan pandangan beribu-ribu dokter yang telah melakukan riset lama dan mendalam.

Kita lebih meyakini pada pengusung teori konspirasi, dibanding pendapat ahli epidemilogi dan virologi.

Kita tidak mempertimbangkan sama sekali soal kepakaran, bahwa seorang dokter lebih paham soal penyakit dari orang awam, seorang dokter spesialis masih lebih paham untuk hal yang menjadi spesialisasinya dibanding dokter umum dan seterusnya.

Singkatnya, sekali lagi mengutip Tom Nichols, kepakaran telah sirna, the death of expertise.

Wacana Tanding

Namun, bukankah dalam situasi kuatnya dominasi ilmu pengetahuan tertentu, kita perlu narasi tanding?

Ya, saya setuju! Kita perlu wacana tanding. Diskursus alternatif di luar mainstream yang bisa mengurai kuatnya relasi kekuasaan dan pengetahuan dalam dunia medis.

Saya sadar sepenuhnya, dunia medis-kedokteran telah menjadi institusi dengan kekuasaan tersendiri. 

Kini, kekuasaan itu melebar dan semakin kokoh di tengah merebaknya pandemi korona. Kesepakatan dan ketentuan para dokter saat ini menjadi semacam kitab suci. Melanggar terhadap apa yang dikatakan para dokter akan berakibat penghukuman.

Dulu, Michel Foucault memperkenalkan konsep gaze dalam melihat pergeseran historis ilmu kedokteran.

Gaze  adalah ‘bahasa tanpa kata-kata’, ditandai dengan vonis diagnosis dokter berdasarkan otoritas ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Kini, diagnosa dokter menjadi vonis paling menakutkan masyarakat.

Diagnosis dokter, bahwa seseorang telah terjangkit korona, itu berarti hukuman bagi seseorang. Ia akan segera diserang ketakutan, harus mengalami karantina, serta tidak bisa berinteraksi dengan siapa pun.

Menarik, karena dalam penelitian Foucault, perlakukan yang nyaris sama pernah terjadi pada para penderita kusta pada abad ke-12.

Tetapi, betapa pun kita membutuhkan wacana tanding, yang kita butuhkan adalah wacana tanding yang tidak abal-abal; logis, masuk akal dan berbasis data.

Wacana yang tidak sekadar kontroversial hanya karena ingin viral. Wacana yang bukan sekadar menggunakan teori konspirasi yang mengaitkan satu dengan lainnya, tetapi dengan logika sederhana saja bisa dipatahkan.

Wacana tanding tentang covid yang dibutuhkan adalah yang dihasilkan melalui penelitian mendalam dan penuh dedikasi.

Ingat, Foucault ketika ingin melahirkan pengetahuan tandingan terhadap diskursus sexualitas, ia mendalami secara serius terhadap apa yang ditelitinya.

Ia menanggapi dengan sangat serius soal AIDS, sexualitas menyimpang, bahkan mempraktikkan dan terlibat di dalamnya sampai pada batas tertinggi yang bisa dilakukannya. Foucault  menyebutnya sebagai pengalaman ‘ambang batas.’

Dari sebuah penelitian serius dengan melakukan penekanan terhadap pikiran dan tubuhnya yang menurutnya sudah tidak independen lagi, kemudian melampauinya untuk sebuah kebebasan tubuh sampai pada titik ambang batas, Foucault melahirkan tiga karya memukau. 

Ketiga karya Foucault adalah History of Sexsuality (1980), The Care of The Self (1984), dan The Use of Pleasure (1985).

Kita berharap, mereka yang ingin melawan wacana dominan soal covid ini, lakukanlah dengan sungguh-sungguh.

Babarkan fakta-fakta dan data berdasarkan riset yang dalam. Jika perlu, jadilah bagian dari pasien Covid-19, sebagaimana Foucault menderita AIDS demi mencapai pengalaman ambang batas tersebut.

Jika Anda melakukan itu, mungkin ada peluang untuk menjadi wacana alternatif yang bisa diperpegangi.

Saya masih percaya apa yang dikatakan Bertrand Russel, “bahkan ketika semua pakar sepakat, mereka masih mungkin salah.”  

Dan, meski pendapat Anda hanya sendiri, belum tentu salah. Tetapi, sekali lagi, pendapatnya jangan ‘asal-asalan.’ (*)


Sumber :

Penulis : Syamsurijal

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP