Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
Berkurban di Tengah Pandemi Covid-19
Sumber gambar: kalderanews.com

Berkurban di Tengah Pandemi Covid-19

Rabu, 21 Juli 2021
Kategori : Artikel Ilmiah
101 kali dibaca

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Imbauan

Memasuki semester kedua tahun 2021, angka penyebaran virus Covid-19 mengalami kenaikan tajam. Jumlah korban terpapar terus meningkat. Bahkan, tak sedikit yang berujung pada kematian.

Melonjaknya angka penularan Covid-19 tersebut membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan. Tujuannya, menahan laju penyebarannya di tengah masyarakat.

Mulai 3 Juli 2021, pemerintah mengeluarkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa dan Bali. Kebijakan serupa juga diambil oleh beberapa pemerintah daerah di luar Jawa dan Bali.

Melonjaknya angka penularan Covid-19 dan kebijakan PPKM, tentu berdampak secara langsung pada ekonomi masyarakat, khususnya mereka yang berada pada ekonomi menengah ke bawah.

Akibatnya, banyak masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan.

Pada Juli 2021, bertepatan momen Iduladha, akibatnya beberapa edaran terkait dikeluarkan.  Misalnya, imbauan untuk melaksanakan Salat iduladha di rumah saja demi mencegah terjadinya kerumunan.

Momen Iduladha bagi umat Islam juga berkenaan dengan ritual tahunan, yaitu penyembelihan hewan kurban.

Berkenaan penyembelihan hewan kurban, pada tahun ini, dua organisasi besar Islam di Indonesia,  (NU dan Muhammadiyah) mengeluarkan imbauan khusus kepada warganya.

PB NU melalui Surat Edaran Nomor 4162/C.134/07/2021, tertanggal 9 Juli 2021, menyampaikan imbauan kepada warga Nahdiyin yang memiliki kemampuan secara ekonomi, agar mendonasikan dana yang akan dibelikan hewan kurban untuk membantu masyarakat terdampak Pandemi Covid-19.

Sebelumnya, PP Muhamamdiyah melalui Surat Edaran Nomor 05/EDR/I.0/E/2021, tertanggal 2 Juli 2021, menyarankan umat Islam yang hendak berkurban bisa dialihkan dengan bersedekah menggunakan uang tunai.

PP Muhamamdiyah lebih menyarankan untuk lebih mengutamakan bersedekah berupa uang tunai daripada menyembelih hewan kurban.

Imbauan NU dan Muhamamdiyah tersebut diikuti oleh beberapa ormas Islam lainnya, seperti Mathlaul Anwar (MA) dan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI).

Imbauan tersebut tentu didasarkan pada pertimbangan dan prinsip kemaslahatan bagi umat manusia, khususnya di tengah situasi Pandemi Covid-19.

Kurban

Dalam tafsiran gramatikal, kurban (qurban) satu akar kata dengan karib, yang berarti dekat. Kurban berarti upaya serius untuk mendekatkan diri dengan mempersembahkan bukti sebagai tanda kesungguhan.

Secara psikologis, kurban mengingatkan manusia untuk memberikan segala hal berharga yang dimilikinya, yang berpotensi untuk memalingkan perhatian, kecintaan, dan pengabdian kepada Allah.

Selain berdimensi vertikal, yaitu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, kurban juga berdimensi sosiologis, yaitu bentuk penegasan akan komitmen fellowship (persahabatan) guna memenuhi tuntutan akan solidaritas sosial.

Dengan demikian, kurban merepresentasikan universalitas ajaran agama yang bersifat vertikal (teologis)dan horizontal (sosiologis).

Pesan dan spirit sosilogis kurban adalah meringankan beban sesama dengan memberikan daging ternak yang telah dikurbankan untuk mereka nikmati sebagai makanan lezat dan asupan gizi, yang mungkin hanya sekali setahun mereka bisa nikmati.

Berkurban melalui hewan ternak merupakan simbolisasi atas perwujudan rasa empati kepada sesama, dengan saling berbagi kenikmatan dan kebahagiaan, yang disimbolkan dengan daging binatang ternak.

Kurban merupakan momentum pendekatan diri kepada Allah, sekaligus menumbuhkan kepekaan sosial dengan saling berbagi.

Mengalihkan dana kurban untuk membantu kaum dhuafa terdampak Pandemi Covid-19, tentu sinergis dengan pesan dan spirit kurban tersebut.

Fardhun dan Fadhlun

Dalam sebuah tulisannya, KH. Miftah F. Rakhmat, menyebut ada dua istilah, yaitu fardhun dan fadhlun.

Fardhun adalah kewajiban yang bersifat mutlak dan tidak bisa ditinggalkan. Fardhun ada yang bersifat ain (individu) dan kifayah (kolektif). Sedangkan fadhlun adalah keutamaan namun tidak ditekankan sebagai kewajiban.

Kurban adalah fadhlun, menyelamatkan sesama adalah fardhun. Berkaitan kondisi Pandemi Covid-19 yang banyak menyebabkan saudara-saudara kita mengalami kesulitan ekonomi, dan menolong mereka untuk setidaknya bisa bertahan dari kesulitan tersebut, adalah fardhun.

Jika kita diperhadapkan pada dua pilihan dikotomik, antara yang fardhun dan fadhlun, tentu nalar sehat kita akan menuntun untuk memilih mengerjakan atau mendahulukan yang fardhun.

Prinsip kemaslahatan dan kedaruratan berdasarkan fakta objektif, tentu menjadi pertimbangan utama untuk sampai pada kesimpulan, bahwa dana kurban dapat dialokasikan kepada hal-hal yang lebih maslahat dan darurat, yaitu menyelamatkan nyawa manusia.

Pandemi Covid-19 telah mengancam nyawa manusia, baik secara langsung maupun tak langsung, karena dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Berkenaan dampak ekonomi yang ditimbulkan, solidaritas dan empati sosial menjadi kata kunci untuk menyelamatkan nyawa sesama.

Imbauan yang dikeluarkan beberapa ormas Islam untuk mengalihkan alokasi dana kurban untuk membantu masyarakat terdampak Covid-19, tentu relevan dengan spirit universal kurban, sebagai sarana menumbuhkan kesalehan sosial dalam bentuk berbagi kepada sesama.

Di tengah keadaan Pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai dan dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkannya.

Maka, spirit kurban merefleksikan penghayatan kepada kita untuk terus menumbuhkan empati sosial kepada sesama dan solidaritas sosial untuk bisa bersama keluar dari Pandemi ini. (*)

Selamat Iduladha 1442 H/2021.


Sumber :

Penulis : Sabara Nuruddin

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP