Top
    blamakassar@kemenag.go.id
(0411) 452952
“Bergerilya” Mencari Masjid di Pulau-Pulau Terluar Kota Makassar
Penulis sedang berada di atas perahu menuju pulau-pulau terluar di Kota Makassar. Foto: Dok. Pribadi.

“Bergerilya” Mencari Masjid di Pulau-Pulau Terluar Kota Makassar

Senin, 12 Juli 2021
Kategori : Artikel Ilmiah
77 kali dibaca

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Setelah menginap semalam di Pulau Barrang Caddi, keesokan harinya, sebelum lama matahari terbit, saya telah menyiapkan diri untuk melakukan petualangan di beberapa pulau terluar di Kota Makassar.

“Jika cuaca bersahabat dan laut teduh, kita akan kembali di Barrang Caddi sebelum sore,” kata Bahtiar, pemilik rumah yang saya tempati menginap semalam, sekaligus pemandu saya mendatangi pulau-pulau yang akan saya tuju.

Ini adalah kisah lanjutan saya melakukan survei pemetaan masjid, yang ditugaskan kantor saya, Balai Litbang Agama Makassar.

Dalam tugas ini, saya diberi amanah menyambangi Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Kepulauan Sangkarrang.

Kecamatan Kepulauan Sangkarrang sendiri membawahi tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Pulau Kodingareng, Pulau Barrang Lompo, dan Pulau Barrang Caddi

Kondisi di kepulauan tentu saja berbeda dengan kelurahan yang terdapat di Kota Makassar. Bila di kota harus menyusuri lorong demi lorong, maka di kepulauan, kita harus “bergerilya” dengan mengarungi lautan yang kondisinya sulit ditebak. Terkadang tenang, tetapi tiba-tiba saja bisa menjadi garang.

Tantangan yang memacu adrenalin terbayar dengan keramahan penduduk yang terbuka menyambut dan menjamu kami, orang yang baru mereka kenal. Pemandangan indah khas kepulauan dengan air laut biru jernih dan pasir putih, menambah kesan menunaikan tugas di kepulauan.

Ditemani Pak Bahtiar, saya menyapanya begitu, dan seorang tukang perahu, saya berangkat menunaikan tugas survei pemetaan masjid di Kelurahan Barrang Caddi. Tepat pukul 07.00 Wita, perahu kami bergerak ke arah barat menuju pulau-pulau terluar.

Pulau Langkai

Jadwal perjalanan kami, pertama menuju Pulau Langkai, yaitu pulau terjauh dari tiga pulau yang rencananya akan kami tuju. Waktu tempuh normal dari Barrang Caddi ke Pulau Langkai sekitar 1,5 jam. Karena keadaan laut sedikit berombak, waktu tempuh perjalanan menjadi lebih dua jam.

Pada pukul 09.00 Wita lewat, perahu kami menepi di Pulau Langkai, disambut air nan jernih dan pasir putih. Tujuan pertama adalah Masjid Nurul Jazirah, yang terletak di tengah-tengah pulau ini.

Pulau Langkai merupakan pulau paling luas dari lima pulau di Kelurahan Barrang Caddi. Luasnya mencakup hampir setengah total luas Keluarahan Barrang Caddi.

Pulau seluas 27,5 hektar ini menurut Ketua RW setempat, dihuni sekitar 300 kepala keluarga,  atau sekitar 1.000 jiwa penduduk. Terumbu karang seluas sekitar142 hektar mengelilingi pulau tersebut.

Sebagian besar penduduk beretnis Bugis. Mereka menjadikan bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-hari. Meski begitu, ada juga orang Makassar dan Mandar.

Memasuki Pulau Langkai rumah-rumah permanen berjejer. Melihat bangunan rumah-rumah penduduk, kelihatan sekali kalau kebanyakan penduduk di pulau ini secara ekonomi cukup makmur.

Ketika hendak menginput data masjid di aplikasi Appsheet, terlihat di layar android tak ada tanda-tanda signal internet dan seluler.

Rupanya, signal internet dan seluler belum menjangkau pulau ini. Satu-satunya tower seluler yang ada di Pulau Barrang Caddi, pancarannya ternyata tak menjangkau di pulau ini.

Sejenak saya singgah di rumah salah seorang pengurus masjid. Saya berkata kepada mereka, “Masih Kota Makassar ji inikah Pulau Langkai?” Ia menjawab disertai senyuman. “Iye (iya), masih ji Pak. Tapi beginilah keadaannya. Maklum, pulau terluar yang jauh dari kota.”

Pulau Langkai adalah satu dari tiga pulau terluar yang dimiliki Kota Makassar. Akses ke pulau ini tidak ada penyeberangan reguler.

Dari Paotere atau Dermaga Kayu Bangkoa, kita harus menyewa perahu dengan biaya Rp. 750.000 hingga Rp. 1.000.000 untuk sekali perjalanan pulang-pergi (pp).

Dari pengurus Masjid Nurul Jazirah saya mendapat informasi, bahwa masih ada satu lagi masjid di Pulau Langkai, yaitu Masjid Nurul Aman, yang dibangun pada 2019. Lokasi masjid ini tak terlalu jauh dari masjid pertama. Hanya letaknya sedikit ke pesisir.

Informasi lain yang saya peroleh, bahwa di Pulau Lanjukang, pulau paling terluar dari Kota Makassar, sekarang juga sudah memiliki masjid. Akhirnya, Pulau Lanjukang yang awalnya tidak masuk dalam daftar, pun harus didatangi.

Pulau Lanjukang

Kami bergegas meninggalkan Pulau Langkai dan bergerak sekitar empat mil ke utara menuju Pulau Lanjukang.

Pulau paling luar ini luasnya sekitar 7,5 hektar. Terdapat 16  kepala keluarga dan sekitar 42 jiwa penduduk menghuni pulau berpasir putih nan indah ini. Semua penduduk beretnis dan bertutur dalam bahasa Makassar.

Sejak Oktober 2020, masyarakat Lanjukang memiliki sebuah masid yang diberi nama Masjid Darussalam.

Meski jumlah laki-laki dewasa tidak cukup 40 orang sebagai syarat wajib Jumat, namun karena kondisi, di pulau ini tetap melaksanakan Salat Jumat, mengingat telah ada masjid yang representatif.

“Mau bagaimana lagi, Pak. Daripada kami tidak Salat Jumat! Masa’ kami harus ke Pulau Langkai untuk Salat Jumat,” kata seorang penduduk setempat dengan bahasa Makassar.

Pulau Lanjukang merupakan salah satu destinasi wisata di Kota Makassar. Sayangnya, pulau ini tidak ditunjang fasilitas memadai.

Listrik yang dinyalakan dengan mesin generator hanya menyala selama tiga jam dari pukul 18.00 - 21.00 Wita. Selebihnya Pulau Lanjukang akan gulita. Signal internet sudah tentu tak menjangkau pulau ini.

Letak yang sangat jauh membuat kita harus merogoh kocek minimal Rp.1.000.000 untuk biaya penyeberangan bolak-balik ke pulau ini. Waktu tempuh dari Dermaga Kayu Bangkoa ke pulau ini sekitar tiga jam. Bisa lebih cepat jika kondisi laut teduh.

“Selama pulau ini masuk menjadi bagian Kota Makassar, tak satu pun walikota yang pernah datang mengunjungi warganya di pulau ini,” kata seorang penduduk kepada saya.

Pulau Lanjukang, sisi lain dari Kota Makassar yang metropolitan, pulau terluar yang nyaris tak tersentuh pembangunan. Letaknya jauh dari hingar-bingar kota. Di sini begitu tenang. Dikelilingi air laut nan jernih dan terumbu karang eksotik.

Pulau Lumu-Lumu

Tak sempat berlama-lama menikmati keindahan Pulau Lanjukang, karena masih ada dua pulau lagi yang harus didatangi, sedangkan hari telah cukup siang. Menurut informasi, siang hari kondisi laut kurang bersahabat.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju Pulau Lumu-Lumu. Benar saja. Ombak cukup kencang mengayun-ayun perahu kami, membuat seluruh pakaian basah tersiram ombak selama perjalanan.

Hampir dua jam kami tempuh hingga tiba di Pulau Lumu-Lumu, sebuah pulau yang luasnya tak sampai empat hektar namun dihuni 1.348 jiwa penduduk. Pulau ini merupakan yang paling padat dari lima pulau di Kelurahan Barrang Caddi.

Nyaris tidak ada ruang kosong lagi di pulau ini, sehingga tak ada lagi pasir putih yang tampak, karena sepanjang pesisir telah dipenuhi rumah-rumah penduduk yang dibangun menjorok ke laut.

Umumnya masyarakat berasal dari etnis Makassar, meski ada sebagian beretnis Bugis dan Mandar. Masjid Nurul Bahri, yang menjadi tujuan saya mendatangi pulau ini, terletak di tengah-tengah pemukiman yang cukup padat.

“Pulau ini dulu tak kalah indah dengan Pulau Langkai dan Lanjukang. Namun karena abrasi dan kurangnya lahan untuk membangun rumah, sementara penduduk semakin banyak, membuat Pulau Lumu-Lumu menjadi terlihat sangat sesak,” ujar warga.

Pulau Bonetambu

Hari menjelang sore, namun masih ada satu masjid lagi yang harus didatangi. Masjid Nurul Rahman di Pulau Bonetambu menjadi tujuan terakhir petualangan saya.

Pulau Bonetambu lokasinya tak jauh dari Pulau Barrang Caddi, sehingga signal internet dapat menjangkau pulau ini.

Perjalanan lebih satu jam dari Pulau Lumu-Lumu untuk sampai ke Bonetambu. Kondisi laut mulai tenang membuat perjalanan terasa lebih nyaman. Sekitar Asar, perahu kami merapat di Pulau Bonetambu dan langsung bergegas ke Masjid Nurul Rahman.

Pulau Bonetambu merupakan pulau kecil nan eksotik. Luasnya lima hektar dengan pasir putih dan pohon kelapa yang banyak tumbuh di pesisir.

Dibanding pulau-pulau lainnya, Bonetambu tidak terlalu padat. Lebih 150 kepala keluarga dan 700-an jiwa penduduk bermukim di pulau ini. Umumnya berasal dari etnis Makassar.

Sebagaimana masyarakat pulau pada umumnya, masyarakat di Bonetambu juga cukup ramah kepada setiap orang yang datang. Ingin rasanya sejenak melepas penat di pulau cantik ini.

Sayangnya, hari menjelang senja, sehingga kami memutuskan segera balik ke Pulau Barrang Caddi. (*)


Sumber :

Penulis : Sabara Nuruddin

Editor : M. Irfan Syuhudi

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP