Keberislaman Kaum Meme

Keberislaman Kaum Meme

Oleh : Ijhal Thamaona

Ada apa dengan keberagamaan umat Islam di Indonesia saat ini ?. Pertanyaan itu mungkin menjadi pertanyaan yang bertalu-talu dalam benak sebagian dari kita. Pertanyaan itu patut mengemuka. Bukankah saat ini keberislaman kita bukan lagi ditentukan oleh sejauh mana ibadah kita lakukan; bagaimana salat, puasa dan zakat kita tunaikan, keikhlasan kita dalam beramal atau semangat kita dalam merayakan ritual. Keberislaman kita saat ini ditentukan oleh hingar-bingar dunia informasi. Kita  baru dianggap beragama dengan baik jika mengikuti arus informasi yang didesain oleh media, khususnya media on line. Ketika ramai-ramai mencuat isu penistaan agama, Anda baru dianggap beragama yang baik jika ikut-ikutan menistakan orang yang dituduh sebagai penista. Saat muncul informasi yang dominan mengangkat isu membela ulama tertentu, Anda barulah seorang yang berislam jika ikutan membela ulama dimaksud.

Itulah keberagamaan model meme.  Meme ?. Seenteng itu keberagamaan kita saat ini ?. Meme bukankah hanya sesuatu yang remeh-temeh ?. Ya keberagamaan kita memang hanya dipengaruhi oleh informasi dan pesan yang bentuknya hanyalah sekelumit kata dan sepotong gambar. Lihatlah misalnya meme dengan kata begini: “Demo bela Ulama lebih Utama dari Tadarrus Al-Qur’an”. Di bawah secuil kata itu diletakkanlah gambar orang-orang berjubah putih yang sedang berdemonstrasi. Atau lihat meme yang lain:

“Hebat….!, ustaz Anu menampar ulama Ini dengan Ucapannya….”.

Bukankah akhirnya banyak di antara kita yang merasa semakin mantap keberislamannya setelah mengikuti pesan dari meme-meme tersebut di atas.

Meme memang terkesan remeh, namun sejatinya meme termasuk di medsos sekalipun, ternyata bukan hanya sepotong gambar dan sekelumit kata, namun meme, demikian Richard Dawkins (1989), adalah ide dan perilaku atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang yang lain dalam satu budaya. Meme adalah sebentuk informasi yang menurut Mihaly Csikszentmihalyi mempengaruhi perkembangan diri seorang individu.

Mulanya meme secara sengaja dan sadar diciptakan manusia untuk menyebarkan ide dan gagasan, namun manakala meme sudah menjadi eksistensi, ia justru akan berbalik membentuk kesadaran penciptanya. Proses meme untuk menciptakan kesadaran itu lazim disebut dengan memetika.  Memetika ini menawarkan penjelasan yang paling canggih agar pesan akan kebenaran nilai diterima oleh khalayak.

Dalam era media informasi dan elektronik, khususnya di dunia medsos, meme yang baik adalah yang mampu memadatkan pesan dalam bentuk sekelumit kata atau gambar yang ringkas. Celakanya meme yang demikian itu telah meringkas spektrum keberagamaan kita yang begitu luas hanya dalam bentuk kata dan gambar yang ringkas. Proses ini telah mereduksi realitas keberagamaan yang sesungguhnya di masyarakat. Keberagamaan masyarakat dalam bentuk ibadah yang begitu kudus, ritual yang syahdu dan perayaan-perayaan keagamaan dalam bentuk kerumunan yang agung, sirna oleh potongan gambar dan sejumput kata yang didesain oleh meme di media-media sosial.

Problemnya lagi pesan dan informasi melalui meme tadi akhirnya membentuk realitas keberagamaan sendiri. Meme itulah yang kemudian menentukan dan membentuk model keberagamaan pada masyarakat Islam, termasuk Islam di Indonesia. Kita akhirnya mengenal Islam Jonru , yaitu Islam yang merujuk pada model keberagamaan ala meme yang selalu disebar oleh Jonru dan para pengikutnya.

Membandingkan Ilmu Agama Prof. Quraisy Syihab dan Jonru, misalnya, ibarat kita sedang menyandingkan Gajah dengan Tikus atau seumpama kita memadankan antara langit dan bumi. Amat jauh mengangkasa ilmu agama Quraisy Syihab dibanding pengetahuan agama Jonru yang masih tergagap-gagap dan terkaget-kaget memahami Islam itu.  Tidak masuk akal untuk membandingkan pengetahuan agama keduanya.  Tapi toh…walau demikian adanya, tetap saja ada orang dan kalangan umat Islam tertentu yang nunut dengan ucapan dan pokal si Jonru ini. Mendukung segenap ucapannya dan manut ikut mensyiah-syiahkan Quraisy Syihab. Bahkan ikutan memboikot khotbah Idul Fitri mufasir alumni Al-azhar ini. Mereka terpengaruh dengan meme yang disembulkan oleh si Jonru.

Demikian halnya kita jadi akrab dengan Islam Felix Siauw yang anti nasionalisme dan menganggap Pancasila Thagut.   Islam ini juga merujuk pada meme Islam Felix yang disebar secara masif.  Padahal pandangan ini berseberangan dengan pendapat ulama kaliber Indonesia seperti KH. Wahab Hasbullah misalnya.

Akhir-akhir ini kita bahkan mengenal Islam 212,  yaitu Islam yang merujuk pada aksi 212 yang dianggap sebagai aksi pembelaan atas Islam  dari penistaan agama. Sekali lagi, sebagaimana yang lain, Islam model ini juga dikemas dalam proses memetika tadi.

Sayangnya Islam yang betul-betul dipelajari secara dalam di pesantren, atau digeluti secara panjang oleh para Kyai, tidak menonjol dalam arena kontestasi meme ini. Bahkan terkesan tidak bisa mengimbangi proses memetika para Islamis pendatang baru. Hal inilah yang menjadikan Islam terkesan dangkal dan hanya sekedar hiruk pikuk belaka.

Kini meme itu benar-benar telah berbalik menentukan sikap dan cara kita berislam. Keluar dari kerangka yang disusunnya, seakan Anda telah keluar dari Islam itu sendiri. Kebanyakan dari kita telah kehilangan kesadaran, bahwa meme sebenarnya hanyalah sejumput gagasan dari orang tertentu yang disebar dengan cara tertentu. Dan celakanya, di Indonesia ini, gagasan itu berangkat dari pikiran-pikiran keislaman yang cetek , alias dangkal bin sempit.  Maka bisa dibayangkan seperti apa keberagamaan sebagian umat Islam saat ini.

 

Wallahu A’lam