Kaum Muda Islam dan Mekarnya Fundamentalisme Islam

Kaum Muda Islam dan Mekarnya Fundamentalisme Islam

Oleh ; Syamsurijal

Gerakan fundamentalisme agama, khususnya di kalangan umat Islam bukanlah hal baru di Indonesia. Pasca kemerdekaan kita familier dengan gerakan Darul Islam Indonesia. Gerakan yang dikomandani Kortosuwiryo  ini ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Gerakan semacam ini juga terjadi di Sulsel dan beberapa daerah lainnya. Di Sulsel sendiri, di pimpin oleh Kahar Muzakkar dengan memproklamirkan perjuangannya sebagai bagian dari DI/TII pada tanggal 7 Agustus 1953.

Adanya genealogi fundamentalisme di kalangan umat Islam dianggap bertransformasi pasca reformasi oleh Martin Van Bruinessen (2002). Hal ini dibuktikan ketika beberapa kalangan mengagendakan agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta dimasukkan kembali ke dalam UUD 1945.  Meski kemudian, usulan yang  diusung oleh partai-partai Islam ini ditolak oleh mayoritas anggota legislatif, termasuk kalangan Islam di luar parlemen namun hal ini telah mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang muncul didaerah. Muncullah kemudian beberapa Perda-perda yang disebut dengan ”Perda Syariat Islam”. [1]

Bibit fundamentalisme agama yang sudah ada di Indonesia akhirnya semakin berkembang dan mekar dengan proses globalisasi.  Proses globalisasi dianggap memudahkan pergerakan paham dan ideologi dari satu negara ke negara lain.  Key Deaux dan Shaun Wiley dalam  Gail Moloney (2007), pernah menyebut adanya moving people dan shifting representation dalam konteks globalisasi ini. Di mana terjadi pergerakan sekelompok orang dari negara atau tempat tertentu ke tempat yang lain.  Moving people ini tidak sekadar mengubah populasi dalam satu tempat, tapi juga dan ini yang penting, mengubah orang-orang dalam merepresentasikan dirinya. Bahkan lebih dari itu, Woodward (2007) menyatakan moving people and shifting representation ini, bukan sekedar pergerakan sekelompok orang tapi juga bergerak atau masuknya paham atau ideologi baru ke negara tertentu, khususnya paham keagamaan.

Dalam konteks demikianlah, paham-paham fundamentalisme agama yang ada di belahan dunia lain, seperti ISIS, HTI, Wahabi dengan gampang menjelanak masuk ke Indonesia.  Karena bibitnya sendiri sudah ada maka ia pun bisa berkembang dengan pesat.

Dengan demikian kita bisa mengerti mana  kala  Wahid Institute melansir ada 600 ribu jiwa masyarakat muslim ternyata pernah melakukan tindakan radikal dan 11 juta berpotensi melakukan tindakan serupa, jika mendapatkan kesempatan. Demikianlah fakta kehidupan beragama kita di Indonesia yang menjadi ujian berat masyarakat muslim moderat, yang jumlahnya sebenarnya dominan.

Yang mencengangkan adalah kenyataan bahwa kalangan yang berpotensi menjadi radikal dan fundamentalis itu ternyata kaum muda umat Islam. Penelitian Gerry Van Klinken menjelaskan kaitan antara variabel usia, dengan kecenderungan paham radikal-fundamentalis. Klinken dalam penelitian itu menyatakan usia di bawah 24 tahun cenderung lebih fundamentalis di banding yang berumur di atas 55 tahun.    Dalam salah satu soal misalnya, yaitu kecenderungan tidak mempercayai tetangga yang berbeda agama tampak bahwa kalangan yang berumur di bawah 24 cenderung lebih besar yang tidak percaya dibanding dengan yang berumur di atas 55 tahun. Demikian halnya dalam soal penerapan syariat Islam, kalangan muda cenderung lebih setuju di banding yang berusia di atas 55 tahun (Van Klinken, 2010).

Temuan LaKIP seakan seirama dengan penelitian Klinken. Dalam penelitian LaKIP pada rentang waktu Oktober 2010-Januari 2011 pada 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri di

Jabodetabek menunjukkan;  hampir 50 % pelajar setuju dengan kekerasan, 14,2 % setuju dengan aksi terorisme dan 84,8 % juga setuju dengan penegakan Syariat Islam (Fanani, 2013).

Gejala yang sama juga ditunjukkan oleh Penelitian Maarif Institute.     Dalam penelitian yang berjudul Pemetaan Problem Radikalisme di Kalangan SMU  Negeri di 4 Daerah, menunjukkan kecenderungan serupa. Infiltrasi kelompok fundamentalis-radikal masuk ke sekolah-sekolah melalui Rohis sangat masif (Fanani, 2013).

Sementara Litbang Agama Makassar pada tahun  2009 silam, dalam penelitian Paham keagamaan Mahasiswa Islam di Makassar menunjukkan pula kecenderungan mencengangkan,  paham mereka soal kebangsaan signifikan menunjukkan titik pergeseran. Dalam penelitian itu , 63,5 % Mahasiswa setuju bentuk Negara Khilafah dan 17, 1 % yang sangat setuju. Sementara ada 59,3 %   yang sepakat perdaisasi/formalisasi Syariat Islam dan 14, 8 % sangat setuju.  Selanjutnya ada 47,9 % yang menyatakan tidak bersedia di pimpin oleh yang bukan beragama Islam dan 18,3 % sangat tidak bersedia. Ini berarti ada 66,2 % yang tidak setuju.

Penelitian paling anyar Litbang Agama Makassar pada tahun 2016 tentang kecenderungan radikalisme kalangan siswa meski menyimpulkan rata-rata siswa masih toleran dan moderat, tetapi fundamentalisme-radikalisme agama mulai membayangi mereka.  Sebagai misal, yang justru menggelisahkan, adalah; adanya lebih dari 100 siswa di Indonesia Timur yang bersedia melakukan bom bunuh diri.

Di penghujung 2016, Litbang Makassar kembali merilis penelitian tentang Preferensi Radikalisme Agama Pengurus Mesjid di Kota Makassar. Pengurus Mesjid dalam penelitian ini rata-rata berumur di bawah 27 tahun alias masih anak muda, tepatnya remaja mesjid. Dalam soal terorisme rata-rata responden dalam penelitian ini menganggap hal itu bagian dari perjuangan Syariat Islam.

Lantas kenapa anak muda ?.

Ulasan Najib Azca menyatakan bahwa persoalan pertama adalah soal kegamangan identitas pemuda. Najib dalam hal ini melihat kalangan muda lebih mudah  terlibat dalam paham-paham fundamentalis-radikal karena mengalami apa yang disebutnya krisis identitas. Krisis identitas ini, demikian Najib dengan mengutip Wiktrowicz, menyebabkan seseorang mudah mengalami ‘pembukaan kognitif’. Artinya seorang anak muda yang mengalami ketidak-pastian identitas dan sedang melakukan pencarian jati diri sangat mudah menerima ide-ide baru yang cenderung heroik, tidak lazim (di luar mainstream) dan radikal.

Selain itu, masih menurut Najib Azca, kemungkinan lain yang harus dipertimbangkan adalah populasi besar di kalangan muda, dan tingginya tingkat pengangguran di kalangan mereka. Meskipun kemungkinan keterkaitan ini harus di lihat secara hati-hati. Sebab mengaitkan begitu saja, bisa jadi tindakan yang sembrono.

Di luar apa yang dikemukakan Azca tadi, saya sendiri cenderung melihat keterlibatan anak muda dalam berbagai gerakan fundamentalisme agama akibat beberapa hal : Pertama,  kemungkinan lebih terbukanya jaringan bagi mereka. Dalam era globalisasi, sebagaimana di kemukakan sebelumnya, anak mudalah yang paling mungkin melebur di dalamnya. Mereka mudah mengakses berbagai media sosial, berselancar dalam dunia maya dan berjaringan dengan beberapa kelompok yang berasal dari luar.

Kedua, Dalam beberapa penelitian, termasuk penelitian yang di lakukan Litbang baru-baru ini, kalangan muda memang menjadi sasaran yang paling di sasar oleh kelompok-kelompok fundamentalisme agama ini. Penelitian Litbang yang berjudul “Pergeseran Paham Keagamaan Mahasiswa Islam” pada tahun 2015 tersebut,  menyatakan; pada kalangan muda, baik siswa maupun mahasiswalah proses pengaderan yang lebih sistematis dan intensif digalakkan . Sasaran pengaderan  kelompok-kelompok fundamentalis yang diarahkan kepada kelompok muda ini mulai dari pengaderan saat SMA, sampai masuk perguruan tinggi. Adapun masyarakat umum, hanya di ikutkan dalam tablig-tablig akbar atau pertemuan-pertemuan yang tidak rutin.

Ketiga; Munculnya sikap fundamentalisme agama ini bisa jadi adalah respons kalangan muda atas kekecewaan mereka terhadap kuatnya dominasi negara-negara adidaya; Amerika Serikat maupun beberapa negara besar Eropa. Ketika hampir seluruh denyut nadi kehidupan umat manusia ditentukan oleh kebijakan negara-negara tersebut, akhirnya muncullah perlawanan hebat dari kaum muda ini.

Penelitian Saba Mahmoud tentang halakah dan harakah kaum perempuan muda di Mesir menunjukkan, mereka ini muncul untuk melawan perspektif feminisme yang selama ini dibangun oleh imajinasi barat tentang perempuan yang ideal.

Kelompok-kelompok muda ini akhirnya muncul dengan menjadikan identitas agama sebagai basis perlawanannya. Mereka minta pengakuan atas apa yang selama ini mereka anggap sebagai bagian dari cara untuk memaknai kehidupan.

Clash of civilization yang pernah diungkapkan Hungtington pada tahun 1989 meski dianggap mengandung simplifikasi dan generalisasi yang sembrono, seakan-akan membayangi kita saat ini. Benturan, kini  bergeser pada konflik politik identitas yang berbasis agama. Anak-anak muda di berbagai belahan dunia Eropa dan Amerika saat ini  tengah mengeras identitasnya sebagai muslim, tanpa embel-embel muslim Eropa atau Amerika. Anak-anak muda ini, meminjam istilah Oliver Roy, tengah melakukan deculturalization religion. Mereka menanggalkan sifat Islam yang akomodatif terhadap kultur lokal demi kepentingan memurnikan identitas Islam. Pemurnian identitas itu sendiri dilakukan untuk melawan dominasi identitas Barat dan AS.  Mengerasnya identitas keagamaan ini, sayang sekali , pada gilirannya terjatuh pada lubang radikalisme dan fundamentalisme.

Gerakan Alternatif Untuk Kalangan Muda Agama

Munculnya fundamentalisme agama, khususnya di kalangan muda umat Islam ternyata di respons sama oleh kelompok muda agama lain. Beberapa kalangan anak muda pada agama lain muncul pula dengan sikap militansi dan radikal. Otonomi daerah di jadikan jalan lempang untuk menunjukkan perjuangan identitas tersebut.

Penelitian lain yang pernah dilakukan Litbang Agama Makassar  tentang Menguatnya Politik Identitas dan Dampaknya bagi Kerukunan beragama di Indonesia Timur menunjukkan kecenderungan itu.   Brigade Manguni muncul di Sulawesi Utara, sementara Monokwari Kota Injili muncul di Papua Barat. Kemunculan kelompok ini dalam banyak hal merupakan bagian dari respons terhadap menguatnya fundamentalisme agama di kalangan umat Islam.  Sayangnya pula dalam beberapa hal gerakan-gerakan ini juga merepetisi bentuk-bentuk fundamentalisme yang lebih dulu muncul di kalangan umat Islam Indonesia.

Respons demikian ini tentu tidak akan mengurai persoalan fundamentalisme agama ini, malah boleh jadi hanya akan semakin menguatkan fundamentalisme di berbagai agama. Dengan menumpang pada gerakan politik identitas, gerakan ini bisa jadi hanya akan menyuburkan fundamentalisme agama pada agama selain Islam dan pada sisi yang lain justru semakin membuatnya berkembang pada umat Islam sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?

Dalam konteks ini, baik kiranya jika kita mengingat dua modal sosial yang lazim disebut para sosiolog semacam Robert Putnam ataupun Kearns (2004) yaitu bonding social capital dan bridging social capital. Mengacu pada pengertian Kearns, Tony D. Pariella menyebut  bonding social capital sebagai hubungan kelompok social yang cenderung homogen dengan tujuan memperkuat ikatan sosial dan identitas kelompok bersangkutan. Sementara Bridging adalah relasi sosial yang lebih heterogen, proses ini bertujuan membangun ikatan sosial lintas etnik, agama dan kelompok yang berbeda (Tony, 2010).  Jika yang pertama bisa memperkuat ikatan ke dalam, maka yang kedua membangun jembatan dengan kelompok yang lain.

Jalan pertama menghadapi fundamentalisme agama yang bisa ditempuh adalah membangun dua modal sosial ini. Di mana ikatan primordial tetap di beri ruang, namun di saat yang sama kita harus mekarkan bridging social cavitalBonding social capital dapat dibangun dengan menggunakan identitas agama, sementara bridging social di olah dengan membangun hubungan lewat kesamaan profesi atau hobi.  Dalam konteks ini, maka anak muda yang bergabung dalam fans club, semacam fans Barca, Madrid, MU, bisa menjadi modal besar. Demikian halnya anak muda pencinta motor gede, pencinta burung dan seterusnya.

Jalan Kedua adalah gerakan keagamaan yang lebih progresif. Gerakan ini tidak hanya bicara soal tafsir agama yang toleran, inklusif atau menawarkan model-model pemahaman yang liberal, namun harus mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak muda dan juga masyarakat pada umumnya. Gerakan keagamaan semacam ini harus bisa menjawab persoalan kedaulatan tanah, kedaulatan sumber daya alam, kemiskinan struktural dan juga pengangguran yang terjadi.

Saya sendiri melihat bahwa gerakan agama yang liberal misalnya Islam liberal dalam konteks umat Islam misalnya, ternyata tidak bisa mengurai persoalan fundamentalisme agama ini. Alih-alih mampu menahan lajunya, Islam Liberal malah mendorong semakin menguatnya sikap fundamentalisme Islam di masyarakat. Persoalan pertama, saya setuju dengan pandangan Fayyad, bahwa Islam liberal justru dianggap bagian atau terkait dengan kepentingan dominasi barat/Amerika terhadap Islam (Fayyadh, 2016).

Yang lain wacana Islam liberal  hannyalah wacana elite yang tidak nyambung sampai ke tingkat bawah. Pada level bawah wacana ini justru dibajak dan digunakan oleh kelompok fundamentalisme Islam untuk semakin menyuburkan sikap fundamentalis itu sendiri. Dalam persoalan keumatan, misalnya; kemiskinan dan pengangguran, Islam liberal justru lebih mengikut arus kebijakan liberalisme pasar. Padahal di tingkat bawah hal inilah yang justru memperburuk kondisi rakyat. Puncaknya Islam liberal sendiri adalah sikap fundamentalisme beragama pada sisi yang berbeda. Mereka tetap mengandalkan otoritas teks (meski tentu saja tafsir dibuka sedemikian rupa) untuk mendominasi dan menggiring kebenaran menurut versi mereka, persis yang dilakukan kaum fundamentalisme Islam selama ini pada sisi yang berbeda.

Kenyataan itu mengharuskan kita mencari gerakan keagamaan di luar jalur liberal. Gagasan-gagasan teologi pembebasan dalam konteks Katolik atau Islam Nusantara dalam konteks umat Islam adalah salah satu alternatif untuk itu. Inti dari gerakan yang kita inginkan ini adalah menjadikan agama sebagai sarana untuk berpikir moderat yang berbasis pada pengetahuan lokal dan kebutuhan masyarakat grass root di Indonesia.

Tentu banyak tawaran lain yang bisa kita ajukan. Tawaran dalam  tulisan hanya sekadar pemantik bagi kita untuk berdiskusi lebih jauh dan lebih mendalam soal gejala fundamentalisme dan radikalisme kaum muda Islam di Indonesia.


[1] Penggunaan kata Perda “Syariat Islam” ini masih menuai perdebatan, beberapa kalangan menganggap ini bukan Perda Syariat Islam, lebih jauh hal ini akan dijelaskan dalam batasan konsep.