• bedah buku 01.jpg
  • bedah buku 02.jpg
  • BEDAH BUKU 03.jpg
  • BEDAH BUKU 04.jpg
  • BEDAH BUKU 05.jpg
  • BEDAH BUKU 06.jpg
  • di masjid.jpg
  • karocang.jpg
  • kepala balai.jpg
  • lagi asyik.jpg
  • makam 01.jpg
  • maulid01.jpg
  • maulid02.jpg
  • maulid03.jpg
  • notulen.jpg
  • pembukaan rkakal.jpg
  • pengarahan1.jpg
  • pengarahan2.jpg
  • pgri1.jpg
  • pgri3.jpg
  • presentasi.jpg
  • santai dulu ah.jpg
  • semarang.jpg
  • siap berangkat.jpg
  • sofyan.jpg
  • wanita.jpg
Pencarian
Main Menu
Waktu Saat Ini

WORKSHOP OPEN JOURNAL SYSTEM (OJS)

Workshop Open Journal System (OJS) salah satu program pengembangan Balai Pengembangan Balai penelitian dan Pengembagan Agama Makassar di tahuan 2015. Open Journal System (OJS) merupakan sistem pengaturan dan penerbitan jurnal dan website. Out put yang diharapkan dari kegiatan ini adalah dengan Open Journal System (OJS) jurnal yang telah diterbitkan dapat terarsipkan dengan baik. Selain itu dengan Open Journal System (OJS) dapat mengotomatisasikan proses pengiriman artikel (submission), editing, review dan lain-lain yang terkait dengan pengelolaan jurnal. Materi yang ditawarkan dalam kegiatan ini,manajemen pengelolaan jurnal ilmiah, Manajemen penerbitan, penerapan dan pengelolaan E-Journal, dan cara pengaplikasikan sistem OJS sesuai dengan alur kerjanya.

Narasumber dalam kegitan ini Bapak Sutrisno Heru Sukoco dan Tinton Dwi Atmaja yang berasal dari LIPI. Peserta yang terlibat dalam kegitan ini adalah Mitra Bebestari Jurnal Al-Qalam, dan pengelolah Jurnal Walaccea Balai Penelitian kehutanan, Jurnal Sawerigading Balai Bahasa Makassar,  Jurnal Walasuji BPNB Makassar, Jurnal Penkomas Depkomonfo Makassar, Balai Besar Industri, Balai Penelitian dan Teknologi Pertanian, Balai diklat Keagamaan Makassar,  jurnal Sosial Budaya UNM, UIM Makassar, STT Intim Makassar, Jurnal Harmoni Unismuh, STAI DDI Talasalapang, LPM Penalaran UNM, Pengelolah Jurnal Fakultas Tarbiyah-Adab-Dakwah UIN Alauddin Makassar, tak ketinggalan pengelolah Jurnal Al-Qalam Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar.

 

Selain materi OJS peserta diberikan materi tambahan mengenai mendelay yang merupakan piranti lunak yang memiliki kemampuan dalam mengolah database ilmiah berupa e-journal, e-book dan referensi lainnya. Fungsi sebagai library yang disertai dengan kemampuan digunakan sebagai pengolah daftar pustaka dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Serta Tata cara abtraksing dan indexing. Kegitan ini dilaksankan di Traning Center UIN Alauddin Makassar 13-15/5/2015.

 

PEMBAHASAN EXECUTIVE SUMMARY

PENELITIAN PEMETAAN KAPASITAS PESANTREN

DI SULAWESI SELATAN

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, melakukan kegiatan pembahasan Executive Summary Penelitian Pemetaan Kapasitas Pesantren Di Sulawesi Selatan Rabu, 22  April 2015, bertempat di Aula BLA Makassar Lt.III.

Setelah pemaparan hasil penelitian pada kegitan seminar hasil penelitian yang dilaksankan di BDK Makassar (9/4/2015)  mengenai  pememetaan persebaran pesantren baik secara kewilayahan, keragaman, maupun aksesibilitasnya; kapasitas yang dimiliki pesantren yang meliputi kiyai, kitab kuning, santri, pondok, dan masjid/mushalla, serta sarana penunjang lainnya; pengembangan dan pemberdayaan yang dilakukan di pesantren, baik di intern pesantren maupun di ekstern pesantren dalam berbagai jenis dan bentuknya di 23 pesantren dari 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

Dari hasil pemetaan yang telah dilakukan terdapat problem-probelm yang ditemukan terkait dengan kapasitas pesantren. Untuk mengatasi problem tersebut tim peneliti bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan merekomendasikan kepada pihak penentu kebijakan (stake holder) yaitu:

1. Perluasan akses pendidikan keagamaan pada masyarakat dengan menjadikan pesantren sebagai pionernya, kehadiran pesantren di tengah masyarakat perlu didorong dan diresponi. Oleh karena itu, perlu gerakan "pesantren masyarakat", dengan menhadirkan pesantren di setiap desa, minimal setiap kecamatan di bawah koordinasi Kementerian Agama kerjasama pemerintah daerah dan ormas keagamaan Islam.

2. Belum terpenuhinya lima unsur utama pesantren pada setiap pesantren, diperluka penataan secara bijak oleh Kementerian Agama sebagai bagian dari perbaikan penatakelolaan pesantren. Pesantren yang hanya memenuhi dua unsur saja, diarahkan untuk memilih jalur sesuai satuan pendidikan yang dibina di dalamnya. Adapun pesantren yang sudah memenuhi tiga unsur utama pesantren, diberi penguatan agar memenuhi unsur lainnya yang belum terpenuhi, sehingga lima unsur yang disyaratkan pada sebuah pesantren terpenuhi. Upaya itu dapat meminimalkan tereliminirnya pesantren dari masyarakat, juga untuk menata tertib manajemen pesantren. Untuk maksud tersebut, diperlukan peningkatan kemampuan managerial pengelola pesantren melalui workshop manajemen pesantren.

3. Pengembangan pemberdayaan di pesantren, varianya perlu mempertimbangkan dukungan potensi wilayah dan lingkungan sekitar dan intern pesantren untuk kesinambungan dan prospeknya. Karena itu diperlukan kajian bersama antara pesantren, Kementerian Agama, dan Pemda setempat untuk menentukan jenis pemberdayaan di sebuah pesantren, agar masing-masing pesantren memiliki spesifikasi kegiatan pemberdayaan dan keberlanjutannya. Untuk itu, diperlukan wadah bersama lintas pesantren semisal forum komunikasi antar pondok pesantren di masing-masing kabupaten/kota. Karena itu, Kementerian Agama sebagai pembina pesantren perlu memprakarsai pembentukan wadah tersebut. Untuk menyamakan persepsi, perlu dilakukan workshop tentang pengelolaan pemberdayaan di pesantren.

 

 

MEMBANGUN BUDAYA DAMAI

Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar melakukan program Dialog Lintas Guru Agama di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegitan ini dilator belakangi oleh kondisi Indonesia yang majemuk baik suku, ras, budaya, bahasan dan agama kepentingan politik memerlukan masyarakat yang terbuka yang bersandar pada nilai-nilai yang menghargai adanya perbedaan, dan terkhusus kepada peserta didik yang perlu mendapatkan pengajaran tentang bagaimana hidup yang harmonis di tengah pluralisme. Bagaimana memaknai perbedaan dalam bingkai keberagaman secara bijaksana, tepat ini menjadi sangat penting. Dengan demikian pendidikan Agama dapat membentuk generasi yang mampu beradaptasi dan hidup dengan berbagai golongan yang berbeda namun tetap tidak terlepas dari akar budaya, agama, dan jati dirinya serta mampu hidup dalam masyarakat yang plural.

Dalam upaya mencapai kondisi tersebut, Badan Litbang dan Diklat dalam hal ini Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan sebagai penggagas kegiatan Dialog ini dan dilakukan diberbagai provinsi demikian pula pada masing-masing UPT melakukan kegiatan yang sama. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang kedua kalinya dilakukan oleh Balai Litbang Agama Makassar.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16-18 April 2015 di Plaza Inn Hotel Kendari Prov. Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini dibuka oleh kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI (Prof. H.Abd. Rahman Mas’ud, Ph.D). Sedangkan yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini yaitu Dr.H.Muh.Hamdar Arraiyah, M.Ag (Kapus Litbang Penda Badan Litbang dan Diklat), Dr.H.Soemanto, M.Pd. (Peneliti Utama Puslitbang Penda), Prof. Dr.H.Hanna (Kepala LPMP Prov.Sultra), Dr.Hj. Indo Santalia, MA. (UIN Alauddin Makassar), Dr.H. Arifudddin Ismail, M.Pd (Peneliti Utama Balai Litbang Agama Makassar). Peserta dalam kegitan ini Kabid PAIS Kanwil Kemenag Prov.Sultra, Kemenag Kota Kendari, Kemenag Kab. Konsel, Kemenag Kab. Konawe, Dinas Pendidikan Kota Kendari, Dinas Pendidikian Kab. Konsel, Dinas Kab/Pendidikan Konawe, dan Peneliti Balai Litbang Agama Makassar.

Akhir kegiatan menghasilkan rumusan rencara aksi di sekolah-sekolah dalam bentuk program memperkuat solidaritas dalam bentuk kegiatan bakti sosial bersama menjelang hari raya masing-masing agama dan jumat bersih, menjenguk siswa/guru yang terkena musibah, memberi santunan kepada fakir miskin. Kegitan ini bertujuan mengelola kemajemukan untuk mewujudkan pengembangan budaya damai. Materi Toleransi dalam bentuk pasantren/pasraman.

 

 

SEMINAR PENELITIAN

PEMETAAN KAPASITAS PESANTREN DI SULAWESI SELATAN

Seminar Penelitian Tahap I Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Kamis, 9 April 2015 di Balai Diklat Keagamaan Makassar. Judul penelitian yang diseminarkan Pemetaan Kapasitas Pesantren. penelitian ini berbasis geografi, untuk menggambarkan secara visual persebaran pesantren. penggambarannya menggunakan sistem informasi geografis, bereferensi keruangan (spacial).

Penelitian dilakukan di 23 dari 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan. populasinya seluruh pesantren di 23 kabupaten tersebut. Penelitian bertujuan untuk: (1) memetakan persebaran pesantren baik secara kewilayahan, keragaman, maupun aksesibilitasnya; (2) kapasitas yang dimiliki pesantren, meliputi kiyai, kitab kuning, santri, pondok, dan masjid/mushalla, serta sarana penunjang lainnya; (3) pengembangan dan pemberdayaan yang dilakukan di pesantren, baik di intern pesantren maupun di ekstern pesantren dalam berbagai jenis dan bentuknya.

Tim peneliti bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Arifuddin Ismail, Badruzaman, Mujizatullah, Rosdiana, Rahman Arsyad, Amiruddin, Baso Marannu, Ali Saputra, Asnandar, dan Sofyan BR sebagai koordinator), memaparkan  hasil temuannya. Persebaran pesantren di Sulawesi Selatan menurut data Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel tahun 2013, sebanyak 289 unit. Temuan penelitian ini hanya 274 pesantren, tersebar di 166 kecamatan dari 256 kecamatan pada 23 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel. Persebarannya mulai dari ibukota kabupaten, kecamatan, desa, dan dusun. Masih ada 90 kecamatan yang dapat dijadikan sasaran pengembangan pesantren dalam rangka perluasan akses pendidikan keagamaan pada masyarakat.

Untuk mengakses pesantren tersebut hanya sebagian kecil berada di jalur transportasi umum roda empat. Umumnya dijangkau dengan menggunakan jasa tukang bentor, ojek motor, dan atau becak. Tipologi pesantren yang dikembangkan umumnya "kombinasi", hanya sedikit "salafiyah". Karena itu, pendidikan yang dikembangkan di dalamnya sangat beragam, sehingga pengajian kitab sebagai ikon pesantren terkesan menjadi pelengkap pembelajaran saja.

Kapasitas pesantren yang dipotret berdasarkan KMA Nomor 13 Tahun 2014 yang mengharuskan pesantren memiliki 5 unsur utama, yaitu kiyai, kitab kuning, santri, pondok, dan masjid/mushalla, ditambah wawasan kebangsaan, hanya sedikit sekali pesantren yang memenuhinya. Kebanyakan pesantren hanya memiliki beberapa unsur saja. Beberapa pesantren tidak menyelenggarakan pengajian kitab karena tidak memiliki kiyai dan tidak tersedia kitab kuning. Kitab anjuran Kementerian Agama, hanya sebagian kecil pesantren memilikinya, itupun hanya beberapa judul saja, karena minim distribusi. Masjid/mushalla yang memiliki multi fungsi, belum semua pesantren memilikinya dan masih banyak yang darurat. Pondok dan santri yang merupakan dua unsur yang tak terpisahkan untuk sebuah pendidikan berbasis asrama, beberapa pesantren tidak memondokkan santrinya karena tidak memiliki asrama. Ada yang memondokkan sebagian saja karena daya tampung asrama yang tidak memadai bahkan ada yang sudah rusak. Demikian juga wawasan kebangsaan, beberapa pesantren belum menyikapinya sebagai sebuah keharusan. Bila KMA tersebut diimplementasikan, maka banyak pesantren yang tidak memenuhi syarat sebagai sebuah pesantren.

 

Pesantren sebagai wadah pendidikan yang berbasis masyarakat di samping berfungsi sebagai pencerah keagamaan umat, juga sebagai pengemban amanah jiwa kewirausahaan dalam berbagai jenis keterampilan terhadap komunitas pesantren maupun masyarakat. Kegiatan pemberdayaan yang dilakukan di pesantren beragam. Ada yang berkembang ada pula yang mandeg. Bahkan ada pesantren yang tidak melakukannya. Umumnya lemah pada manajemen, teknik pengelolaan, dukungan SDM, dan pendanaan. Karena itu penentuan jenis pemberdayaan di sebuah pesantren perlu riset sederhana oleh pesantren dan pihak terkait lainnya.

 
Who's Online
We have 1 guest online
Situs Terkait

Pengunjung
12135
Hari IniHari Ini14
KemarinKemarin18
Minggu IniMinggu Ini150
Bulan IniBulan Ini14
All DaysAll Days12135